KATANYA tanah kita tanah surga. Tongkat kayu dan bambu bisa jadi tanaman. Namun, mengapa masih banyak rakyat makan nasi aking. Makin hari, jumlahnya makin banyak saja. Apakah surga itu hilang? Atau dikorup? Semestinya surga itu masih ada. Hanya saja, surga Indonesia itu dibiarkan letih. Boleh dibilang: masih tertatih-tatih memenuhi standar kebutuhan hidup penduduk Indonesia yang besar jumlahnya.
Sementara dalam forum Roundtable Discussion yang diadakan FAO dengan tema Demand on Agricultural and Rising Prices Commodity Indonesia dinilai telah berhasil mengatasi isu rawan pangan yang kini telah menjadi isu dunia. Dan memang berdasarkan data, pada tahun 2006, nilai total produksi padi di Indonesia mencapai lebih 54 juta ton, dan pada 2007 meningkat sampai 57 juta ton. Sementara bila diproyeksikan dengan rata-rata jumlah konsumsi beras penduduk Indonesia yang sebesar 154 kg/orang/tahun berdasarkan data IRRI 1999, jumlah ini bisa dikatakan mampu mencukupi kebutuhan pangan rakyat Indonesia.
Hanya saja fakta ini tidak serta merta mengurangi kasus kurang pangan (gizi buruk) atau terkendalinya harga beras di pasaran. Masyarakat masih tetap mengalami kesulitan untuk memenuhi kebutuhan dasarnya berupa kebutuhan pangan. Di tanah yang subur ini, sebenarnya alam mampu memenuhi kebutuhan penduduknya bila tanah ini dikelola dengan bijak, insya allah ketahanan pangan bisa terjaga.
Untuk mewujudkan dan menjaga ketahanan pangan ini, solusinya antara lain dengan pembuat kebijakan di negeri ini membuat peraturan tentang lahan pertanian. Sekarang ini banyak lahan pertanian yang beralih fungsi. Dengan berbagai alasan, terutama alasan ekonomi, para pemilik lahan lebih senang menjualnya, daripada mengelolanya untuk ditanami padi. Alasannya sederhana saja, dengan menjual lahan, langsung jadi uang walaupun mungkin akan habis dalam hitungan bulan mengingat murahnya harga jual tanah tersebut daripada mengolahnya menjadi lahan pertanian. Karena meski harga beras merangkak naik, petani tetap saja tidak mendapatkan keuntungan. Biaya pengolahan lahan, bibit, serta harga pupuk sudah tidak murah lagi. Katakan panen berhasil tanpa ada gangguan hama atau kekeringan, hasilnya pun terlalu pas-pasan kalau tidak mau dikatakan rugi. Alih-alih mau usaha yang ada rugi. Nah siapa mau rugi. Petani bukanlah profesi pilihan, daripada menjadi petani mereka lebih senang menjual lahannya untuk memenuhi kebutuhan.
Apabila hal ini dibiarkan, sangat mungkin Indonesia yang dulu dijuluki lumbung padi menjadi negara pengimpor utama kebutuhan pangan rakyatnya. Pemimpin, pejabat, politisi, dan ilmuwan negeri ini perlu duduk bersama secara serius membuat peraturan yang mampu melindungi lahan pertanian untuk tidak beralih fungsi sekaligus membuat kebijakan yang mampu menyejahterakan para petaninya. Masa, rakyat yang tinggal di tanah surga, kelaparan dan harus makan nasi aking?


0 komentar:
Posting Komentar