Selasa, 07 Oktober 2008

Mengembalikan Senyum Bangsa

BANGSA Indonesia kaya dengan beragam sumber daya alamnya. Ada sebuah kekayaan lain yang kita miliki, dan tak ternilai harganya, yaitu senyuman. Tak semua bangsa punya kekayaan ini. Singapura saja perlu mengadakan terapi khusus untuk rakyatnya agar mau tersenyum dan kelihatan ramah guna menyambut wisatawan yang datang di negeri singa itu.

Rakyat Indonesia tak perlu latihan kalau hanya tersenyum. Tak perlu juga negara mewajibkan rakyatnya pura-pura tersenyum agar kelihatan ramah. Bangsa yang besar ini punya rakyat yang tak hanya ramah tapi juga pandai tersenyum. Senyumnyapun bukan dibuat-buat, tapi senyum yang tulus dari dalam hati.

Dulu, kemanapun anda pergi ke pelosok negeri ini mulai dari ujung Sumatera hingga pangkal Papua yang anda temukan adalah keramahan rakyatnya dengan senyum mengembang di setiap bibir rakyatnya. Kini, rasanya senyum sudah menjadi barang mahal di negeri ini. Banyak yang hilang dari bangsa ini, rakyat sudah kehilangan senyumnya, kehilangan keramah-tamahannya, kehilangan rasa optimis, berubah menjadi pesimis, skeptis, apatis, dan penuh rasa curiga.

Kenapa rakyat banyak berubah? Rakyat sudah terlampau sering dikecewakan pembuatan kebijakan di negeri ini. Banyak kebijakan yang dibuat tidak pro rakyat. Harapannya pada wakil rakyat yang duduk di kursi legislatif pun tak banyak membantu. Sebagian besar tak benar-benar berjuang untuk kepentingan yang diwakilinya. Rakyat sering menjadi korban dan dibiarkan sendirian serasa tak punya pemimpin yang mampu melindunginya dan mendengarkan keluhannya .Wajar kalau senyuman itu hilang dan berubah menjadi senyum kecut dan getir.

Rakyat pun diajari oleh pembuatan kebijakan untuk merendahkan martabatnya dengan mengantri bantuan yang nilainya tak seberapa. Rakyat tak malu-malu lagi mengaku tak mampu agar mendapatkan bantuan dan menjadi peminta-minta yang sebenarnya bukan sifat bangsa ini yang pekerja keras.

Seratus tahun sudah bangsa Indonesia memperingati kebangkitan nasional. Dan lebih dari seratus masalah melilit bangsa ini. Namun demikian jangan pernah menyerah terhadap keadaan. Sudah saatnya kita bersama-sama berbuat untuk tidak membiarkan martabat bangsa ini jatuh sampai titik nadir. Alangkah lebih baik bila para pemimpin, politisi, cendikiawan, dan agamawan berlomba-lomba menebar kebaikan dengan melakukan hal-hal yang positif dan menularkan semangat kebangsaan dan sikap optimis ke semua orang dalam setiap kesempatan. Jangan sampai kekayaan terbesar yang dimiliki bangsa ini hilang, yaitu senyum tulus dari bibir-bibir rakyat Indonesia.

0 komentar: