MOHON maaf lahir dan batin. Pernahkah kita merenung. Berhenti sejenak dari rutinitas untuk memikirkan apa-apa yang telah kita dan sedang lakukan. Bisa jadi ketika merenung, tenang, dan tidak terburu-buru dengan kehidupan, kita akan mendapatkan jawaban-jawaban dari pertanyaan yang selama ini mengganggu pikiran. Dijamin jawaban yang akan kita dapat adalah jawaban yang sebenarnya. Jawaban dari dalam hati yang memang pas buat kita.
Pada saat yang tenang saat merenung inilah kita juga akan menyadari betapa banyak kesalahan yang sudah kita lakukan. Baik kesalahan kepada Tuhan, kesalahan pada sesama, pada orangtua, pada anak atau bahkan pada binatang dan alam sekalipun. Nah kesalahan-kesalahan yang telah diperbuat ini lama-kelamaan akan menumpuk dan menutupi kesadaran kita bahwa ternyata sebenarnya kita pernah punya salah, saking banyaknya sampai lupa kesalahan yang diperbuat.
Budaya mengakui kesalahan dan minta maaf hampir-hampir hilang dari bangsa Indonesia. Padahal mengakui salah adalah bukan perbuatan nista. Bahkan akan dianggap sebagai ksatria karena mengakui salah dan berani bertanggungjawab atas tindakan salah yang dilakukan. Namun kenyataanya tidak demikian. Lihat dan baca saja pemberitaan di media massa. Sudah jelas-jelas salah, oknum yang bersalah, masih saja bisa berkelit dengan seribu satu cara. Sampai-sampai masyarakat dibuat bingung dan akhirnya berkesimpulan bahwa oknum tersebut tidak salah. Dan yang jelas sampai saat ini tidak ada (atau belum ada) pejabat atau politisi yang berani mengakui kesalahan di depan publik dan mengundurkan diri karena kesalahan tersebut.
Budaya yang sangat bertentangan dengan budaya bangsa lain seperti bangsa Jepang dan Korea yang menjunjung tinggi sifat kejujuran. Bahkan ada yang lebih memilih jalan mengakhiri hidup daripada menanggung malu karena salah. Tentunya bukan jalan ini yang kita tiru, tetapi sikap berani mengakui salah dan bertanggungjawab serta siap mundur bila melakukan kesalahan.
Keika Ramadhan tiba, itu saat yang tepat untuk mengucapkan kata maaf pada semua. Penguasa minta maaf pada rakyat. Rakyatpun juga demikian. Politisi minta maaf pada konstituen demikian juga sebaliknya. Para pemimpin termasuk pemimpin agama maupun pemimpin masyarakat sebaiknya juga meminta maaf, jangan menunggu permintaan maaf dari rakyat atau ummat. Karena yang memimpin lebih banyak bicara daripada yang dipimpin sehingga lebih banyak pula kesalahan yang diperbuat.
Alangkah indahnya bila memasuki bulan Ramadhan kali ini diantara kita saling menebar kata maaf, Siapa tahu selama berinteraksi dengan sesama pernah atau bahkan banyak melakukan kesalahan. Untuk itu saya sebagai manusia yang juga Ketua Umum PAN dalam kesempatan ini meminta maaf pada saudara-saudara sekalian yang pernah berinteraksi secara langsung maupun tidak langsung.


0 komentar:
Posting Komentar