Kamis, 09 Oktober 2008

Surat Dari Rakyat

Pagi ini saya mendapatkan surat cinta
Surat cinta dari rakyat jelata
Untuk itu saya akan membacakannya untuk Anda semua

Pak wakil rakyat yang terhormat
Bukankah saya dan orang-orang seperti saya yang menjadikan anda menjabat
Menjadikan anda duduk di kursi terhormat
Menjadikan anda perlente yang jidatnya makin mengkilat

Dulu bapak pidato berapi-api
Kami pun ikhlas mendengarkannya dengan hati
Karena kami berharap bapak akan benar-benar memperjuangkan aspirasi kami
Membela hak kami sebagai rakyat republik ini

Kami juga ikhlas ketika anda minta kami hadir disetiap kampanye bapak
Bahkan kami juga rela meninggalkan dagangan kami di lapak
Yang menjadi sumber penghidupan kami satu-satunya
Kami juga mengajak anak bini untuk berpartisipasi walau sebenarnya tak ingin

Gara-gara mendukung bapak, kami sempat bersitegang dengan mertua karena beda partai
Tapi kami tetap mendukung bapak sebagai harapan kami dan pembela kami

Sekarang bapak sudah menjabat
Sekarang bapak sudah terhormat
Tapi sekarang bapak tidak pernah datang lagi ke tempat kami

Tempat kami memang kumuh
Tempat kami memang kotor
Tapi dulu bapak sebelum menjadi wakil kami
Hampir tiap hari meyambangi kami
Sekadar membawa sedikit roti dan janji-janji

Dulu bapak kelihatan sungguh-sungguh ingin membela kami
Dulu bapak begitu bersemangat memaparkan program-program bapak yang kami sebenarnya juga gak ngerti

Senyum bapak begitu tulus
Janji bapak manis bak gula
Membuat kami percaya,
Sampai kami menolak ajakan politisi lain yang sebenarnya memberikan amplop yang isinya jauh lebih besar dari penghasilan kami sehari

Dulu bapak mengajak kami menggulingkan penguasa
Bapak begitu berapi-api meneriakkan perubahan
Kami pun terbakar membara
Dengan sekuat tenaga dan harta yang tak seberapa kami ikut serta

Dan akhirnya penguasa pun jatuh juga
Tapi kini, perubahan tak kunjung datang
Yang ada makin sengsara

Bapak wakil rakyat yang terhormat

Kemana bapak selama ini
Apa bapak sudah lupa bahwa punya rakyat yang masih menderita dan melarat

Apakah bapak sudah lupa jalan ke rumah kami
Karena bapak tidak lagi jalan kaki dan sudah berganti alphard
Apa bapak sudah lupa karena
Sering makan enak sampai gak bisa melihat ke bawah
Karena terhalang perut yang membuncit

Mungkin bapak terlalu sibuk sidang paripurna
Sehingga tak terasa
Kalau rakyatnya sengsara

Atau malah bapak sudah lupa
Karena lebih sering berkhalwat di tempat maksiat
Daripada bermunajat

Mudah-mudahan bapak tidak kehilangan logika
Karena memukul bola jauh-jauh memungutnya kembali dan memukulnya lagi

Tidak-tidak, kami tidak ingin curiga
Karena tiada guna
Kami masih percaya kok
Kalau bapak memang sibuk membela kami

Hanya saja belum berhasil
Hanya saja belum terbukti
Hanya saja masih janji-janji
Hanya saja kami masih begini

Kami masih berharap pada bapak
Untuk memperjuangkan kami
Membela hak kami
Serta memikirkan nasib kami

Nasib kami sudah makin terpuruk
Keadaan makin memburuk
Makanan termewah kami hanyalah kerupuk
Bicara harga-harga kok makin mengangkasa
Rasanya hanya ada di mimpi ya

Kawan kami makin banyak yang gantung diri
Makin banyak yang jual diri
Makin kehilangan jati diri

Indonesia tanah surga?
Itu dulu, pelajaran SD anakku
Tongkat kayu menjadi tanaman itu hanya lagu
Zamrud khatulistiwa hanya gurauan sendu

Wakil rakyat yang terhormat
Keinginan kami sederhana
Hanya biasa saja

Pemimpin yang membuat kebijakan yang bajik
Politisi yang memperjuangkan amanat rakyat
Agamawan yang mengajarkan keteladanan
Cendikiawan yang menghasilkan kegunaan
Budayawan yang mencontohkan kesantunan
Usahawan yang juga dermawan
Pemuda yang asanya setinggi angkasa
Dan rakyat yang penuh harapan tak hanya berpangku tangan Â

Kami lahir dan hidup di bumi nusantara ini
Bumi yang mampu menyejahterakan penduduknya
Bumi yang mampu mengantar putra-putrinya sejajar dengan bangsa-bangsa di dunia
Bumi yang melahirkan pahlawan-pahlawan pendiri Indonesia

Namun sayang, hanya saja karena salah kelola
Yang ada rakyat makin sengsara
Kata putus asa ada dimana-mana diseluruh pelosok negeri

Keramahan berubah menjadi kecurigaan
Kemakmuran berubah menjadi kenistaan
Harapan berubah keputusasaan
Martabat berubah menjadi melarat
Pemberi berubah menjadi pengantri

Akankan kita mendiamkan keadaan ini berlarut dan tidak berbuat. Apakah bapak tega melihat senyum tulus anak-anak kami, senyum keceriaan, senyum keikhlasan

Jangan sampai semua yang hadir disini dicap oleh anak cucu kami sebagai pengkhianat bangsa, karena tak mampu memperjuangkan dan mewujudkan cita-cita sederhana kami

Cita-cita untuk menjadi bangsa yang bermartabat
Bangsa yang terhormat
Bangsa yang disegani negara-negara sejagat

Pesan terakhir kami hanya satu
Jangan jual suara kami dengan harga murah
Karena kata nabi hanya para pengkhianatlah yang menjual suara rakyat

Jangan mau Anda yang terhormat
Menjadi pengkhianat
Saatnya kita berbuat untuk anak cucu kita
Dengan perbuatan mulia semampu kita
Siapa saja, saat ini juga

Kami tunggu janji Anda!

Surabaya, 29 Mei 2008

0 komentar: