Tampilkan postingan dengan label Hidup Adalah Perbuatan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Hidup Adalah Perbuatan. Tampilkan semua postingan

Rabu, 26 November 2008

Nasehat untuk Putraku

inilah sebuah hari untuk mensyukuri,
yang semua laki-laki muslim akan menjalani,
memang kelihatannya ngeri
tapi, ini adalah ibadah yang dituntunkan nabi

bukan berarti melukai
bukan sekedar menjalankan tradisi
bukan pula untuk memamerkan harga diri
apalagi untuk menjadi laki-laki sejati

inilah hakikat dari sebuah amalan
amalan yang menuntut pengorbanan
pengorbanan yang menuntut perbuatan
perbuatan yang didasari keyakinan

keharusan bagi kita, orangtua
menunjukkan jalan kehidupan pada anaknya
sebuah jalan keabadian dari alam fana
yang menuntun langkah jejak ke surga

mengajarkan juga berbagai makna
makna kehidupan yang sebenarnya
membekali kehidupannya dengan cinta
untuk mencintai Allah dan kedua orangtuanya

Â
ada juga yang utama
mengajarkan anak pandai berdoa
untuk orangtuanya
karena itulah amal yang takkan sirna

bukan harta yang kita harapkan
hanya ketulusan doa yang ia panjatkan
doa anak itulah yang mampu meringankan
sekaligus menambah timbangan amalan

tepatlah bila alquran menyampaikannya
dalam sebuah nasehat luqman pada anaknya
rasanya nasehat ini cocok juga buat kita
simak nasehatnya:

wahai anakku
janganlah engkau menyekutukan tuhanmu
berbuat baiklah pada ibu bapakmu
dirikanlah shalat sebagai amalanmu
dan janganlah sombong menjadi perilakumu
sesungguhnya allah tidak menyukai orang yang sombong dan membanggakan diri

Selasa, 21 Oktober 2008

Mengemban Amanah

Belum lama ini kita rakyat Indonesia diperdengarkan sebuah drama besar yang mencengangkan serta menggoncang hati nurani. Diperlihatkan dengan sangat jelas. Bukan pertunjukkan drama buatan budayawan atau sastrawan yang indah, tapi sebuah drama kenyataan, rekaman percakapan perselingkuhan hukum antara pemilik masalah dan pengemban amanah penegak hukum yang tak lagi amanah.

Begitu transparannya rekaman percakapan tersebut, sampai-sampai rasanya kita sendiri menjadi tak yakin pada keberadaan dan kemampuan badan penegak hukum di negeri ini untuk menyelesaikan permasalahan hukum. Pemilik masalah begitu digdaya mengatur sebuah keputusan hukum dan mempengaruhi pembuat keputusan. Dan pengemban amanah begitu murahnya menjual amanah tersebut. Ingat, kejadian semacam ini tidak berlangsung sekali, tetapi berulang kali. Tak hanya di pusat, juga terjadi pula terjadi di daerah-daerah.

Di negeri ini amanah bagi pengembannya serasa milik sendiri. Tidak ada pertanggungjawaban dan dengan mudahnya disalahgunakan untuk kepentingan sendiri atau golongan. Mudah kita menemukan penegak hukum yang justru melanggar hukum. Gampang juga kita mendengar janji-janji yang diucapkan para pengelola negara maupun politisi yang kemudian tidak tertunaikan. Atau begitu mudahnya pula pembuat kebijakan itu mengubah dan mensiasati keputusan dan janji yang telah disepakatinya hanya untuk menangguk keuntungan golongannya yang dampakya menimbulkan konflik berkepanjangan antar elemen masyarakat.

Wajar saja, bila sekarang ini rakyat merasa apriaori dan putus asa terhadap para pengelola negara dan pemimpin daerah yang tidak amanah. Para penegak hukum pengemban amanah justru begitu mudahnya mempermainkan hukum. Juga para politisi yang tak lagi benar-benar memperjuangkan amanah. Kok begitu teganya ya, mempermainkan amanah yang diberikan rakyat serta menjualnya dengan harga murah. Lalu rakyat yang sebenarnya pemilik dan pemberi amanah ini nasibnya mau dikemanakan kalau yang diberi amanah tidak mengemban amanah? Bisa jadi karena mereka tahu bahwa rakyat kita ini baik-baik dan pemaaf sehingga apabila amanahnya disalahgunakanpun tidak akan marah. Alangkah mengecewakannya bila sikap dan perilaku mereka seperti ini, dengan tega dan sengaja mengkhinati amanah rakyat, sementara rakyat begitu percaya dan ikhlas memberikan amanahnya.

Sebagai apapun kita, sudah menjadi kewajiban kita untuk menunaikan amanah yang dibebankan pada kita. Sebagai rakyat bekerja dan berusaha semaksimal mungkin. Sebagai penguasa, kepala daerah, dan juga politisi memenuhi janji dan memperjuangkan amanah yang dipercayakan. Apapun dan bagimanapun kondisi bangsa ini, apabila seluruh elemen bangsa menjaga dan menunaikan amanah, Insya Allah bangsa ini akan terlepas dari kesulitan, dan sang rakyat pemilik amanah akan merasakannya, berupa kesejahteraan dan kemakmuran.

Selasa, 14 Oktober 2008

Mulai dari Hal yang Mendasar

KEKAYAAN bumi Indonesia ini berlimpah. Semestinya, kekayaan ini dimanfaatkan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat. Namun, seperti anak ayam kelaparan di lumbung padi. Rakyat belum dapat terjamin kebutuhannya, baik pangan, sandang, maupun papan. Apalagi kebutuhan yang lebih tinggi, seperti sarana kesehatan, pendidikan, serta jaminan hidup yang lebih sejahtera.

Alam yang sedemikian makmurnya ini telah menyediakan segala rupa kebutuhan rakyatnya apabila bangsa ini mampu mengelolanya. Lalu kenapa masih ada yang masih makan nasi aking yang seharusnya diberikan pada bebek daripada kita konsumsi. Kenapa juga angka balita yang kekurangan gizi atau gizi buruk (sebenarnya lebih tepat menggunakan istilah kelaparan daripada gizi buruk) juga meningkat.

Tak hanya di luar Jawa, bahkan di beberapa daerah di Pulau Jawa tak susah menemukan masyarakat yang mengidap gizi buruk. Ironisnya, pada waktu bersamaan pembangunan pusat-pusat perbelanjaan di kota-kota besar (dan sekarang menular di daerah-daerah) sedemikian pesatnya, bahkan lebih cepat dari usia kandungan manusia. Apakah pembangunan ini sudah tepat? Apakah masyarakat makin makmur? Anda sendirilah yang tahu jawabannya.

Kasihan bangsa ini, masyarakat terlalu sering dicekoki dengan istilah-istilah yang maknanya justru sebaliknya. Alih-alih pembangunan yang ada malah kemiskinan. Malangnya lagi penyakit konsumerisme juga menjangkit akut di masyarakat yang menyebabkan makin turunnya kualitas hidup dan harkat bangsa. Lalu bagaimana untuk mengatasi keadaan ini. sebenarnya solusinya sederhana, yaitu kembali menjalankan nilai-nilai luhur dan kearifan lokal yang telah lama ada di masyarakat dan sudah terbukti mampu mengatasi kesulitan tersebut.

Banyak nilai-nilai luhur yang apabila kita jalankan, Insya Allah dapat mengurangi beban masyarakat yang makin memberat. Untuk mengatasi kelaparan (gizi buruk) pada bayi, ASI bisa menjadi solusinya. Kampanye tentang penggunaan ASI harus betul-betul digalakkan untuk memberikan kesadaran pada masyarakat. Bahkan kalau perlu diwajibkan di seluruh rumah sakit bersalin. Sehingga minimal sampai dua tahun bayi tersebut relatif aman perkembangan dan pertumbuhannya bila mengonsumsi ASI walapun memang masih perlu makanan tambahan.

Untuk memenuhi gizi ibunya, bisa diatasi dengan hal sederhana seperti menanam sayuran-sayuran di sekitar halaman rumahnya. Kalau tidak punya halaman, bisa menggunakan barang bekas sebagai pot sayuran. Sekalian menjaga lingkungan dengan mengolah sampah menjadi pupuk kompos sebagai media tanam dan memanfaatkan barang bekas. Sementara untuk bapaknya mengalihkan pengeluaran yang kurang bermanfaat (seperti merokok) pada pembelian lauk pauk yang bisa dikonsumsi sekeluarga.

Apakah dengan program ini kemiskinan akan hilang serta merta? Tentunya tidak, namun apabila ini menjadi gerakan dan budaya seluruh masyarakat untuk hidup mandiri memenuhi kebutuhannya sendiri dan mengurangi konsumsi yang tak perlu setidaknya akan mengurangi beban masyarakat. Dan tentunya akan berhasil bila pemimpin, pejabat, dan politisi ikut memberi contoh dan menjalankan gaya hidup ini. Gaya hidup sederhana dan mandiri.