Jumat, 10 Oktober 2008

Mengemban Amanah

INI drama besar yang mencengangkan, dan menggores hati nurani. Diperlihatkan dengan sangat jelas. Bukan pertunjukkan drama buatan budayawan atau sastrawan, tapi sebuah drama kenyataan. Rekaman percakapan perselingkuhan hukum antara pemilik masalah dan pengemban amanah penegak hukum yang tak lagi amanah.

Begitu transparannya rekaman percakapan tersebut, sampai-sampai rasanya kita sendiri menjadi tak yakin pada keberadaan dan kemampuan badan penegak hukum di negeri ini untuk menyelesaikan permasalahan hukum. Pemilik masalah begitu digdaya mengatur sebuah keputusan hukum dan mempengaruhi pembuat keputusan. Dan pengemban amanah begitu murahnya menjual amanah tersebut. Ingat, kejadian semacam ini tidak berlangsung sekali, tetapi berulang kali. Tak hanya di pusat, juga terjadi pula terjadi di daerah-daerah.

Di negeri ini amanah bagi pengembannya serasa milik sendiri. Tidak ada pertanggungjawaban dan dengan mudahnya disalahgunakan untuk kepentingan sendiri atau golongan. Mudah kita menemukan penegak hukum yang justru melanggar hukum. Gampang juga kita mendengar janji-janji yang diucapkan para pengelola negara maupun politisi yang kemudian tidak tertunaikan. Atau begitu mudahnya pula pembuat kebijakan itu mengubah dan mensiasati keputusan dan janji yang telah disepakatinya hanya untuk menangguk keuntungan golongannya yang dampakya menimbulkan konflik berkepanjangan antar elemen masyarakat.

Wajar saja, bila sekarang ini rakyat merasa apriaori dan putus asa terhadap para pengelola negara dan pemimpin daerah yang tidak amanah. Para penegak hukum pengemban amanah justru begitu mudahnya mempermainkan hukum. Juga para politisi yang tak lagi benar-benar memperjuangkan amanah. Kok begitu teganya ya, mempermainkan amanah yang diberikan rakyat serta menjualnya dengan harga murah. Lalu rakyat yang sebenarnya pemilik dan pemberi amanah ini nasibnya mau dikemanakan kalau yang diberi amanah tidak mengemban amanah? Bisa jadi karena mereka tahu bahwa rakyat kita ini baik-baik dan pemaaf sehingga apabila amanahnya disalahgunakanpun tidak akan marah. Alangkah mengecewakannya bila sikap dan perilaku mereka seperti ini, dengan tega dan sengaja mengkhinati amanah rakyat, sementara rakyat begitu percaya dan ikhlas memberikan amanahnya.

Sebagai apapun kita, sudah menjadi kewajiban kita untuk menunaikan amanah yang dibebankan pada kita. Sebagai rakyat bekerja dan berusaha semaksimal mungkin. Sebagai penguasa, kepala daerah, dan juga politisi memenuhi janji dan memperjuangkan amanah yang dipercayakan. Apapun dan bagimanapun kondisi bangsa ini, apabila seluruh elemen bangsa menjaga dan menunaikan amanah, Insya Allah bangsa ini akan terlepas dari kesulitan, dan sang rakyat pemilik amanah akan merasakannya, berupa kesejahteraan dan kemakmuran.

0 komentar: