Selasa, 28 Oktober 2008

Mengembalikan Senyum Bangsa

BANGSA Indonesia kaya dengan beragam sumber daya alamnya. Ada sebuah kekayaan lain yang kita miliki, dan tak ternilai harganya, yaitu senyuman. Tak semua bangsa punya kekayaan ini. Singapura saja perlu mengadakan terapi khusus untuk rakyatnya agar mau tersenyum dan kelihatan ramah guna menyambut wisatawan yang datang di negeri singa itu.

Rakyat Indonesia tak perlu latihan kalau hanya tersenyum. Tak perlu juga negara mewajibkan rakyatnya pura-pura tersenyum agar kelihatan ramah. Bangsa yang besar ini punya rakyat yang tak hanya ramah tapi juga pandai tersenyum. Senyumnyapun bukan dibuat-buat, tapi senyum yang tulus dari dalam hati.

Dulu, kemanapun anda pergi ke pelosok negeri ini mulai dari ujung Sumatera hingga pangkal Papua yang anda temukan adalah keramahan rakyatnya dengan senyum mengembang di setiap bibir rakyatnya. Kini, rasanya senyum sudah menjadi barang mahal di negeri ini. Banyak yang hilang dari bangsa ini, rakyat sudah kehilangan senyumnya, kehilangan keramah-tamahannya, kehilangan rasa optimis, berubah menjadi pesimis, skeptis, apatis, dan penuh rasa curiga.

Kenapa rakyat banyak berubah? Rakyat sudah terlampau sering dikecewakan pembuatan kebijakan di negeri ini. Banyak kebijakan yang dibuat tidak pro rakyat. Harapannya pada wakil rakyat yang duduk di kursi legislatif pun tak banyak membantu. Sebagian besar tak benar-benar berjuang untuk kepentingan yang diwakilinya. Rakyat sering menjadi korban dan dibiarkan sendirian serasa tak punya pemimpin yang mampu melindunginya dan mendengarkan keluhannya .Wajar kalau senyuman itu hilang dan berubah menjadi senyum kecut dan getir.

Rakyat pun diajari oleh pembuatan kebijakan untuk merendahkan martabatnya dengan mengantri bantuan yang nilainya tak seberapa. Rakyat tak malu-malu lagi mengaku tak mampu agar mendapatkan bantuan dan menjadi peminta-minta yang sebenarnya bukan sifat bangsa ini yang pekerja keras.

Seratus tahun sudah bangsa Indonesia memperingati kebangkitan nasional. Dan lebih dari seratus masalah melilit bangsa ini. Namun demikian jangan pernah menyerah terhadap keadaan. Sudah saatnya kita bersama-sama berbuat untuk tidak membiarkan martabat bangsa ini jatuh sampai titik nadir. Alangkah lebih baik bila para pemimpin, politisi, cendikiawan, dan agamawan berlomba-lomba menebar kebaikan dengan melakukan hal-hal yang positif dan menularkan semangat kebangsaan dan sikap optimis ke semua orang dalam setiap kesempatan. Jangan sampai kekayaan terbesar yang dimiliki bangsa ini hilang, yaitu senyum tulus dari bibir-bibir rakyat Indonesia.

Senin, 27 Oktober 2008

Saatnya Pariwisata menjadi Perhatian

PERINGKAT yang tertuang dalam annual review yang kedua Travel & Tourism Competitive Index menempatkan Indonesia di urutan ke-80 hanya sedikit diatas Bostwana urutan ke-87, masih kalah dengan India, Srilanka, apalagi dengan negara tetangga seperti; Thailand urutan ke-42, Malaysia ke-32 dan Singapura urutan ke-16.

Dasar penilaian tersebut mengacu pada tiga hal pokok, yaitu; peraturan dan kebijakan pemerintah, infrastruktur, serta manusia dan sumber daya alamnya. Itulah dasar yang digunakan Lembaga riset yang berkedudukan di Jenewa dalam mengeluarkan daftar peringkat negara berdasarkan indeks pariwisata di sebuah negara.

Kenapa Indonesia bisa menempati peringkat yang lebih rendah dibanding negara-negara jiran? Apakah negara-negara yang mempunyai peringkat lebih tinggi dibanding Indonesia mempunyai alam yang lebih indah? Apakah mereka mempunyai budaya yang beragam? Tidak, Indonesia mempunyai alam yang indah, mempesona dengan kekayaan budaya yang beragam serta unik. Seluruh pelosok negeri ini seperti; indahnya taman laut Raja Ampat yang menjadi surganya para penyelam, eloknya pantai di pesisir serta budayanya yang khas di pulau Bali, keramahan wisata budaya Jogjakarta, atau uniknya seni debus di Banten adalah sedikit dari banyaknya obyek wisata dan obyek budaya yang layak jual ke wisatawan mancanegara.

Untuk membantu mengatasi krisis multidimensi di Indonesia, sudah selayaknya pemimpin bangsa, para politisi dan pejabat baik di pusat maupun di daerah mulai serius memikirkan bagaimana memajukan dunia pariwisata Indonesia. Solusinya sederhana saja, mengacu pada tiga hal pokok diatas. Pemerintah dan kalangan DPR bisa menghasilkan kebijakan dan peraturan yang mendorong tumbuhnya dunia pariwisata. Misalnya adanya pengurangan pajak untuk industri yang mampu mendatangkan wisatawan dari luar negari.

Bank-bank pemerintah mulai menyalurkan kredit untuk para pelaku pariwisata dengan memberikan pinjaman lunak dan bunga yang lebih rendah untuk membangun atau mengembangkan obyek wisata. Pemerintah memprioritaskan pembangunan infrastruktur dasar, seperti; jalan raya, listrik, komunikasi, dan air bersih yang berkualitas menuju lokasi wisata.

Disaat yang sama, pemerintah juga memikirkan orang-orang yang terlibat dalam industri ini, dengan memberikan keringanan pembayaran pajak pendapatan untuk para investor atau insentif untuk para perajin atau pelaku budaya di tingkat masyarakat seperti kusir delman dan penabuh gamelan di Jogja, pemain debus, penari dan pengukir patung di Bali. Insentif ini tidak harus uang, bisa berupa kartu berobat gratis di puskesmas setempat, atau membebaskan biaya sekolah untuk anak-anaknya sampai SMU. Yang lebih penting lagi, adalah kita seluruh elemen masyarakat menjaga kealamian alam jamrud khatulistiwa ini. Penguasa harus berani menindak tegas siapa saja yang merusak alam Indonesia.

Ini menjadi perhatian yang serius karena industri pariwisata memiliki efek domino yang besar yang dampaknya bisa dinikmati seluruh lapisan masyarakat hingga termasuk para perajin di pedesaan. Apalagi dunia pariwisata menyumbang devisa bagi negeri ini nomor tiga setelah industri minyak serta gas bumi dan industri tekstil. Sudah saatnya prioritas pembangunan pariwisata ini dikembangkan untuk membantu meringankan beban masyarakat yang makin hari makin berat.

Jumat, 24 Oktober 2008

Merdeka, mandiri, dan moderen

MERDEKA adalah membebaskan diri baik secara fisik maupun hati dari adanya belenggu. Tuhan telah menjadikan kita sebagai pribadi-pribadi yang merdeka. Bebas bertindak sesuai dengan keinginan dengan tetap bertanggung jawab atas tindakan yang dilakukan. Merdeka itu bebas menentukan pilihannya sendiri tanpa adanya intervensi atau pengaruh orang lain.

Empat belas abad lalu, Ali bin Abi Thalib pernah berpetuah kepada kita; “Janganlah engkau menjadi hamba orang lain, karena Tuhan telah menjadikanmu sebagai orang yang bebas (merdeka)”.

Merdeka yang hakiki adalah membebaskan perasaan dan hati dari sifat-sifat negatif seperti; rasa takut, ragu-ragu, iri, maupun dengki. Satu-satunya yang berhak ‘menjajah’ dan ditakuti adalah Tuhan semesta alam. Manusia Indonesia yang merdeka adalah manusia yang berani bertindak dan bertanggung jawab serta membebaskan sifat-sifat negatif yang ada pada hati.

Mandiri itu salah satu sifat yang juga hilang dari bangsa ini. Bangsa ini banyak bergantung. Padahal rakyat Indonesia terkenal mempunyai sifat mandiri. Yaitu sifat dan semangat memenuhi kebutuhannya sendiri tanpa harus bergantung pada orang ataupun bangsa lain. Namun bangsa yang berlimpah sumber dayanya ini, baik penguasa, generasi tua, maupun generasi mudanya lebih senang menjadi pribadi yang bergantung, bukan pribadi mandiri. Padahal untuk menjadi sebuah bangsa yang sehat, apabila lebih dari dua persen jumlah penduduknya menjadi wirausaha yang mandiri. Sedangkan di Indonesia jumlahnya masih kurang dari angka tersebut. Untuk itu, generasi mudanya perlu didorong untuk menjadi generasi mandiri yang menciptakan lapangan kerja dan bukan generasi muda yang hanya berharap mendapatkan pekerjaan.

Moderen bukan berarti meninggalkan sama sekali hal-hal tradisional. Moderen disini mempunyai makna merespon dengan cepat hal-hal positif. Baik itu nilai-nilai luhur (tradisi) yang telah ada dan sudah kita miliki maupun nilai-nilai yang bersifat perbaikan seperti: disiplin, tepat waktu, responsif, serta bertanggung jawab. Moderen bermakna juga pola berfikir berkembang. Tidak terpaku pada masa lalu dan terbelenggu menyesali kegagalan yang dialami. Namun berpikir dan bertindak cepat yang positif dan tidak alergi dengan hal-hal baru. Menyikapi kegagalan sebagai tantangan untuk diubah menjadi peluang. Tidak puas dengan hasil yang telah dicapai, tetapi terus berusaha semaksimal mungkin untuk menggapai hasil yang lebih baik tanpa meninggalkan nilai moral dan dengan cara yang terpuji. Sederhananya, manusia moderen adalah bila hari ini lebih baik dari kemarin dan besok lebih baik dari hari ini.

Marilah, saatnya menjadi manusia Indonesia yang memiliki jiwa merdeka, mandiri dan moderen untuk menuju Indonesia Baru, Indonesia yang adil berkemakmuran dan makmur berkeadilan. Dan Insya Allah, Partai Amanat Nasional mampu mewujudkannya dengan Membangun Indonesia Baru yang merdeka, mandiri, dan moderen.

Kamis, 23 Oktober 2008

Lebih Baik Berbuat Daripada Curiga

Saat ini kondisi memang tidak menguntungkan buat siapa saja. Entah itu penguasa, politisi, pengusaha, aparat, mahasiswa apalagi rakyat. Hampir semua lapisan masyarakat dari semua golongan merasakan dampak perekonomian yang lesu, terutama setelah kenaikan BBM yang diberlakukan waktu lalu.

Karena menaikkan BBM penguasa makin tidak dipercaya masyarakat. Politisi dianggap gagal karena tidak bisa memperjuangkan suara rakyat. Pengusaha makin pening menyiasati biaya produksi yang membengkak dan tuntutan kenaikan upah dari serikat buruh. Aparat yang makin sibuk mengatasi gejolak sosial yang timbul. Mahasiswa makin semangat untuk berdemo memperjuangkan eksistensinya dan melalaikan studinya. Dan keadaan rakyat yang makin jauh dari kemakmuran.

Ketika semua elemen masyarakat dalam keadaan demikian yang muncul adalah sikap saling curiga. Rakyat curiga, bahwa negara dan para politisi hanya mengakali rakyatnya dan tidak benar-benar memperjuangkan aspirasinya. Penguasa dan aparat curiga kalau mahasiswa demo ditunggangi dan tidak murni keinginan mahasiswa dan tuntutan rakyat. Keadaan seperti ini tidak baik apabila dibiarkan berlarut-larut. Bangsa tidak akan sehat bila setiap elemen masyarakatnya saling curiga. Bahkan orang yang mempunyai niat berbuat baik sekalipun sekarang dicurigai dengan berbagai tuduhan dan tudingan. Bagaimana bangsa ini akan maju bila yang dikedepankan sifat saling curiga bukan semangat berkarya?

Lalu apakah kita diam dan tak mau berbuat sesuatu karena takut dicurigai? Tidak juga, justru ditengah kondisi seperti sekarang ini, masing-masing kita perlu mengembangkan sikap positif, siapa saja berbuat untuk sesama dan membuang jauh-jauh rasa saling curiga, karena dengan curiga, yang berkembang sikap iri dan dengki. Boleh saja kita iri, tapi iri yang membangun. Iri melihat negara lain yang tidak punya sumber daya alam tapi mampu menyejahterakan rakyatnya. Iri melihat negara lain yang mampu menjalankan pemerintahan yang bersih dan bebas korupsi. Iri melihat pemuda-pemudanya mencipta dan menghasilkan karya inovasi tinggi. Iri melihat hak-hak rakyat dilindungi dan dibela negara.

Alangkah bijaknya bila, mulai saat ini seluruh elemen masyarakat membuang sifat curiga. Penguasa dan aparat tidak mencurigai rakyatnya sendiri dan tidak bertindak serta berperilaku yang menyakiti hati rakyat. Rakyat pun menyerahkan pembelaan aspirasinya pada para politisinya. Demikian juga politisi benar-benar memperjuangkan suara rakyatnya bersama-sama penguasa membuat kebijakan yang tidak merugikan rakyatnya. Para mahasiswa pun tetap harus mengawal demokrasi tapi tidak dengan anarkis dan melupakan tugasnya. Sementara elemen masyarakat lain tetap berbuat dan bisa saling berlomba-lomba membuat kebajikan untuk sesama. Meringankan beban masyarakat yang makin berat karena kenaikan BBM. Hilangkan sifat curiga dan mari terus berbuat kebaikan sesuai kemampuan kita.

Rabu, 22 Oktober 2008

Perlu Solusi Bersama

BERITA tentang kesulitan hidup masyarakat kita selalu menghiasi halaman surat kabar dan berbagai media lainnya. Minyak tanah langka. Gas naik harganya. Harga sembako melonjak naik. Cerita ketakmampuan menyekolahkan anak-anak. Seorang ibu tega membunuh anak-anaknya karena tekanan ekonomi keluaga. Menyedihkan.

Hari-hari sekarang sungguh merupakan hari-hari yang berat bagi masyarakat pada umumnya. Berita-berita tentang kesulitan hidup masyarakat selalu mengisi halaman-halaman surat kabar serta media massa lainnya. Kesulitan untuk mendapatkan minyak tanah karena harganya yang terus meningkat dan pasokannya yang semakin langka, kenaikan harga kebutuhan bahan-bahan pokok lainnya, kisah orang yang tak mampu untuk berobat dan menyekolahkan anak, hingga cerita-cerita memilukan tentang ibu yang membunuh anak-anaknya sendiri akibat tekanan ekonomi terus menjadi berita sehari-hari. Belum lagi penderitaan akibat bencana yang terjadi di berbagai tempat di Indonesia, mulai dari tragedi lumpur di Sidoarjo hingga banjir di mana-mana.

Keadaan seperti itu dari sudut pandang tertentu dapat dipahami sangat mungkin terjadi di Indonesa. Persoalan bangsa yang harus dihadapi negara ini memang sangat rumit dan berat, apalagi di tengah kecenderungan ekonomi dunia yang melemah serta harga minyak dunia yang sangat tinggi seperti sekarang. Siapapun yang menjadi presiden atau kepala negara saat ini tidak akan mampu mengatasi persoalan yang ada jika tidak memiliki strategi yang jelas bagaimana memberikan solusi atas berbagai persoalan tersebut. Politisi, akademisi, aktivis LSM, birokrat, hinga para tokoh agama tidak akan mampu memecahkan masalah yang ada jika tidak memiliki gambaran yang jelas atas solusi masing-masing persoalan. Apalagi bila posisi tersebut lebih digunakan semata-mata untuk mendapatkan ‘kekuasaan’ dan ‘uang’ seperti yang sekarang banyak terjadi, serta bukan untuk membantu masyatakat.

Kita tak boleh membiarkan masyarakat terus mengalami penderitaan hingga waktu-waktu mendatang. Masyarakat harus dibebaskan dari kesulitan yang dihadapinya, dan Indonesia harus bangkit untuk menjadi bangsa dan negara maju. Untuk itu, kita memerlukan solusi atas semua persoalan yang ada. Untuk apa menjadi politisi, aktivis masyarakat, pejabat publik, dan bahkan pemimpin bangsa klau tidak dapat menawarkan solusi yang tepat bagi bangsa kita? Oleh karena itu solusi merupakan kata kunci yang harus dipegang oleh seluruh elemen bangsa ini, terutama para pemimpinnya. Solusi tersebut harus pula merupakan solusi bersama, dan bukan solusi masing-masing yang dapat bertabrakan yang satu dengan yang lainnya.

Untuk mendorong adanya solusi bersama tersebut, maka saya mendirikan lembaga “Solusi Bangsa”. Lembaga ini diharapkan dapat mengembangkan solusi yang konkret bagi Indonesia, terutama menyangkut berbagai berbagai masalah mendasar bangsa. “Solusi Bangsa” akan mencari jalan keluar bagi persoalan ketahanan pangan serta enerji saat ini, mengembangkan jiwa kewirausahaan masyarakat, hingga merumuskan solusi bagi peningkatan ekonomi bangsa bertumpu pada kekayaan alam dan budaya seperti melalui pengembangan wisata. Lebih dari itu, keberadaan “Solusi Bangsa” juga untuk mengingatkan kita semua agar terus fokus mencari solusi dan bukan untuk bertikai satu sama lain.

Mari kita semua melahirkan solusi agar masyarakat dapat hidup sentosa!

Selasa, 21 Oktober 2008

Mengemban Amanah

Belum lama ini kita rakyat Indonesia diperdengarkan sebuah drama besar yang mencengangkan serta menggoncang hati nurani. Diperlihatkan dengan sangat jelas. Bukan pertunjukkan drama buatan budayawan atau sastrawan yang indah, tapi sebuah drama kenyataan, rekaman percakapan perselingkuhan hukum antara pemilik masalah dan pengemban amanah penegak hukum yang tak lagi amanah.

Begitu transparannya rekaman percakapan tersebut, sampai-sampai rasanya kita sendiri menjadi tak yakin pada keberadaan dan kemampuan badan penegak hukum di negeri ini untuk menyelesaikan permasalahan hukum. Pemilik masalah begitu digdaya mengatur sebuah keputusan hukum dan mempengaruhi pembuat keputusan. Dan pengemban amanah begitu murahnya menjual amanah tersebut. Ingat, kejadian semacam ini tidak berlangsung sekali, tetapi berulang kali. Tak hanya di pusat, juga terjadi pula terjadi di daerah-daerah.

Di negeri ini amanah bagi pengembannya serasa milik sendiri. Tidak ada pertanggungjawaban dan dengan mudahnya disalahgunakan untuk kepentingan sendiri atau golongan. Mudah kita menemukan penegak hukum yang justru melanggar hukum. Gampang juga kita mendengar janji-janji yang diucapkan para pengelola negara maupun politisi yang kemudian tidak tertunaikan. Atau begitu mudahnya pula pembuat kebijakan itu mengubah dan mensiasati keputusan dan janji yang telah disepakatinya hanya untuk menangguk keuntungan golongannya yang dampakya menimbulkan konflik berkepanjangan antar elemen masyarakat.

Wajar saja, bila sekarang ini rakyat merasa apriaori dan putus asa terhadap para pengelola negara dan pemimpin daerah yang tidak amanah. Para penegak hukum pengemban amanah justru begitu mudahnya mempermainkan hukum. Juga para politisi yang tak lagi benar-benar memperjuangkan amanah. Kok begitu teganya ya, mempermainkan amanah yang diberikan rakyat serta menjualnya dengan harga murah. Lalu rakyat yang sebenarnya pemilik dan pemberi amanah ini nasibnya mau dikemanakan kalau yang diberi amanah tidak mengemban amanah? Bisa jadi karena mereka tahu bahwa rakyat kita ini baik-baik dan pemaaf sehingga apabila amanahnya disalahgunakanpun tidak akan marah. Alangkah mengecewakannya bila sikap dan perilaku mereka seperti ini, dengan tega dan sengaja mengkhinati amanah rakyat, sementara rakyat begitu percaya dan ikhlas memberikan amanahnya.

Sebagai apapun kita, sudah menjadi kewajiban kita untuk menunaikan amanah yang dibebankan pada kita. Sebagai rakyat bekerja dan berusaha semaksimal mungkin. Sebagai penguasa, kepala daerah, dan juga politisi memenuhi janji dan memperjuangkan amanah yang dipercayakan. Apapun dan bagimanapun kondisi bangsa ini, apabila seluruh elemen bangsa menjaga dan menunaikan amanah, Insya Allah bangsa ini akan terlepas dari kesulitan, dan sang rakyat pemilik amanah akan merasakannya, berupa kesejahteraan dan kemakmuran.

Senin, 20 Oktober 2008

Belajar dari Pak Eko

PAK Eko, rakyat biasa dan bukan siapa-siapa. Dia tukang koran di perempatan lampu merah sudut kota Jogja. Ditengah keadaan yang berat dengan naiknya BBM, ia masih optimis. Ketika ditanya mengenai kenaikan BBM dan kondisi yang makin berat, “Dengan harga-harga yang naik seperti sekarang, berarti saya harus lebih rajin jualan, berangkat lebih pagi dan saya harus lebih kreatif lagi mencari nafkah, daripada mengeluh terus mas,” katanya.

Seharusnya kita bisa belajar dari Pak Eko. Isu kenaikan BBM yang belakangan ini menimbulkan keresahan masyarakat ternyata bukan sekedar isu, terbukti sudah walaupun sebelumnya pemimpin negeri ini sempat menjanjikan tidak akan menaikan harga BBM. Namun, kita tahu, pemerintah akhirnya menyerah pada keadaan dan setidaknya belum menemukan langkah solutif untuk mengatasi kenaikan harga minyak yang dampaknya semakin menyengsarakan rakyat.

Kenaikan harga BBM ini menjadi santapan empuk siapa saja, baik para politisi, aktivis, dan akademisi. Mereka ramai-ramai memberi komentar untuk menghabisi pemerintahan yang sedang berkuasa. Dulu para politisi yang pernah diberi wewenang untuk mengelola negeri ini pun berkomentar pedas, padahal ketika mereka berkuasa sama saja keadaannya untuk tidak mengatakan lebih buruk. Ternyata kita, bangsa Indonesia sekarang ini lebih pandai bicara daripada cakap berbuat. Padahal yang diperlukan ditengah kondisi seperti ini adalah perbuatan nyata, bukan wacana.

Seharusnya kita bisa belajar dari Pak Eko. Padahal jutaan rakyat seperti Pak Eko inilah yang mengalami dampak langsung dari kenaikan BBM dan kenaikan harga-harga kebutuhan dasar yang sudah tak terkontrol. Betapa hidupnya makin jauh dari kata sejahtera apalagi makmur. Semestinya para pemimpin dan politisi berterimakasih pada bangsa ini, karena mempunyai rakyat yang baik dan bijak. Meski kondisinya sulit rakyat tetap sabar dan nrimo. Sayangnya, penguasa dan para politisi sering melukai hati rakyat dengan kebijakan yang tidak pro rakyat.

Padahal rakyat Indonesia tak hanya baik tapi juga kreatif. Di Sulawesi, misalnya, seorang jenius mampu menjalanan motor berbahan bakar air. Sayangnya pemerintah tak cukup tanggap, mestinya bisa saja pemerintah membeli hak ciptanya dengan harga yang layak buat penemunya dan pemerintah mengembangkan temuan tersebut untuk kemakmuran rakyat. Sebenarnya dampak kenaikan BBM ini bisa saja diminimalisir bila pemerintah bijak dengan mengembangkan teknologi temuan anak bangsa. Rakyat saja, bisa bersikap bijak, mestinya pemerintah juga bisa membuat kebijakan dan kebajikan buat rakyatnya seperti Pak Eko dan jutaan Pak Eko yang lain.

Jumat, 17 Oktober 2008

Berbuat Ikhlas

IKHLAS. Sebuah kata yang mudah diucapkan namun sulit dilaksanakan. Lihat saja, kalau ada kawan kita memberikan sumbangan namun yang disumbang tidak “ngerti” biasanya berkata: “Saya itu ikhlas lho nyumbang, tapi kenapa kok gak ngerti banget kalau disumbang.” Komentar semacam ini atau yang lebih pedas bisa saja muncul.

Padahal dia bilang ikhlas tapi masih saja mengungkit-ungkit pemberian. Kalau memang benar-benar ikhlas, semestinya tidak mengharapkan pamrih apapun. Dan tidak akan menyebut kalimat “saya ikhlas”, karena yang benar-benar ikhlas, biasanya diam.

Ikhlas menurut seorang filsuf Arab yang bernama Sahl, adalah tenangnya manusia dan gerak-geraknya karena Allah SWT. Secara guyonan, ada seorang bijak yang mengatakan ikhlas itu ibarat kita (mohon maaf) buang hajat. Setelah menunaikan ‘hajat’ kita tidak pernah mengingat-ingatnya apa yang telah kita lakukan. Apalagi mengharapnya kembali. Setelah selesai, ya sudah, kita lupakan bahkan untuk selama-lamanya. Itulah hakikat ikhlas.

Sahl mengajarkan kepada kita untuk berbuat ikhlas. Yaitu mendedikasikan seluruh amal perbuatan kita hanya untuk Tuhan. Tidak untuk dilihat manusia apalagi mengharap imbalan balik dari manusia. Sering kita lebih mengedepankan hitung-hitungan dengan manusia, daripada hitung-hitungan dengan Tuhan. Padahal sudah jelas apabila kita berbisnis dengan Tuhan pasti untungnya, tidak demikian dengan manusia.

Namun situasi yang serba sulit ini menjadikan rakyat kita ‘pandai berhitung’. Segala hal ada hitung-hitungannya. Rasanya perbuatan tolong menolong, atau gotong-royong, semakin hari semakin tergerus oleh nilai-nilai zaman. Yang ada budaya ikhlas juga semakin hari-semakin hilang. Ini akibat seringya menggunakan hitung-hitungan dalam semua tindakan kita. Seolah-olah karena hitung-hitungan itulah kita untung. Sering tidak melibatkan kavling Tuhan sebagai pembuat dan pemberi hitungan yang terbaik.

Apabila ikhlas menjadi sendi dan perilaku bangsa, Insya Allah, bangsa ini akan terlepas dari segala kesulitan. Presiden pun ikhlas apabila diberi masukan (kritikan) dari rakyat untuk kemajuan. Pejabat dan anggota dewan tidak akan bingung mencari “tambahan” dan ikhlas bekerja untuk rakyat. Demikian juga para caleg, tidak akan sibuk berebut nomor urut, tapi benar-benar ikhlas bekerja dan berjuang untuk rakyat. Indah rasanya bila para pejabat ikhlas melayani rakyat, dan rakyat pun dengan ikhlas menghormati dan menghargai para pejabat.

Dan Insya Allah hanya yang bekerja dengan ikhlaslah nantinya yang akan menuai hasil. Mari berhitung dengan Tuhan menjadikan ikhlas sebagai spirit segala perbuatan kita.

Kamis, 16 Oktober 2008

Berbuat Tidak Biasa

SUDAH lama, lebih dari seratus tahun. Cikal bakal bangsa Indonesia mempunyai keinginan bangkit terbebaskan dari penjajahan. Akumulasi dari keinginan dan tekad yang kuat, akhirnya kepeloporan kebangkitan terwujud dalam kemerdekaan tahun 1945. Memang perlu waktu yang tak singkat untuk mewujudkan mimpi mereka, berupa kemerdekaan.

Saat itu mereka pasti berpikir dan bertindak tidak biasa, dan selalu melihat sisi-sisi positif dan peluang untuk berkembang tak hanya diam diri menerima keadaan sebagai bangsa terjajah. Wajar kalau akhirnya kemerdekaan itu terwujud, sesuai hukum alam atau bahasa agamanya sunnatullah, yang bekerjalah yang akan menuai buah usahanya.

Demikian juga saat ini yang kondisinya tidak mudah buat siapa saja. Penguasa yang pusing menghadapi tuntutan elemen masyarakat terutama mahasiswa. Atau rakyat yang juga hidupnya semakin susah menghadapi gejolak kenaikan harga-harga yang dipicu kenaikan harga BBM.

Lalu apakah kita mendiamkan keadaan ini dan membiarkan begitu saja. Padahal kitab suci telah mengajarkan bahwa Allah tidak akan mengubah nasib sebuah bangsa jika bangsa tersebut tidak berusaha bekerja memperbaiki nasibnya sendiri. Disini bukan berarti Tuhan lepas tangan dan tak mau membantu hambanya, yang ada justru Tuhan sangat adil, bangsa yang bekerjalah yang akan menuai hasilnya. Sebaliknya, bangsa yang malas dan bertindak biasa-biasa saja nasibnya juga akan biasa saja untuk tidak mengatakan mundur dan tidak berkembang.

Dengan keadaan yang tak mudah, perlu memikirkan cara-cara cerdas yang tidak biasa yang biasa dikenal dengan istilah out of the box. Yaitu berpikir dan berbuat diluar rata-rata orang perbuat. Artinya melakukan perbuatan atau solusi yang sebelumnya tidak pernah diperbuat atau bahkan dipikirkan orang lain. Dan selalu mengembangkan pola pikir yang berkembang. Seperti yang dilakukan para pendiri bangsa dulu.

Kalau bicara kreativitas, bangsa Indonesia ini sebenarnya tak kurang kepintarannya. Namun, ini tidak serta merta merubah keadaan bangsa. Bisa jadi sekarang ini sebagian besar elemen bangsa termasuk penguasa berbuat biasa-biasa saja. Wajar kalau hasilnya biasa-biasa saja.

Lebih bijak bila penguasa memikirkan dan membuat kebijakan yang tak biasa bukan sekadar menaikkan harga BBM yang sudah sering dan biasa dilakukkannya, padahal masih ada cara-cara yang tidak biasa. Misalnya secara serius mengembangkan energi alternatif seperti yang sudah dilakukan beberapa anak bangsa di negeri ini dengan tindakan yang cerdas dan tidak biasa.

Sudah saatnya kita mengembangkan pola berpikir dan berbuat positif yang keluar dari kebiasaan untuk mengubah nasib bangsa. Dan tentunya jangan mudah curiga bila ada anak bangsa yang berpikir dan berbuat keluar dari kebiasaan yang ada. Asal perbuatan itu positif, bisa jadi itulah alternatif buat bangsa yang ini.

Selasa, 14 Oktober 2008

Mulai dari Hal yang Mendasar

KEKAYAAN bumi Indonesia ini berlimpah. Semestinya, kekayaan ini dimanfaatkan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat. Namun, seperti anak ayam kelaparan di lumbung padi. Rakyat belum dapat terjamin kebutuhannya, baik pangan, sandang, maupun papan. Apalagi kebutuhan yang lebih tinggi, seperti sarana kesehatan, pendidikan, serta jaminan hidup yang lebih sejahtera.

Alam yang sedemikian makmurnya ini telah menyediakan segala rupa kebutuhan rakyatnya apabila bangsa ini mampu mengelolanya. Lalu kenapa masih ada yang masih makan nasi aking yang seharusnya diberikan pada bebek daripada kita konsumsi. Kenapa juga angka balita yang kekurangan gizi atau gizi buruk (sebenarnya lebih tepat menggunakan istilah kelaparan daripada gizi buruk) juga meningkat.

Tak hanya di luar Jawa, bahkan di beberapa daerah di Pulau Jawa tak susah menemukan masyarakat yang mengidap gizi buruk. Ironisnya, pada waktu bersamaan pembangunan pusat-pusat perbelanjaan di kota-kota besar (dan sekarang menular di daerah-daerah) sedemikian pesatnya, bahkan lebih cepat dari usia kandungan manusia. Apakah pembangunan ini sudah tepat? Apakah masyarakat makin makmur? Anda sendirilah yang tahu jawabannya.

Kasihan bangsa ini, masyarakat terlalu sering dicekoki dengan istilah-istilah yang maknanya justru sebaliknya. Alih-alih pembangunan yang ada malah kemiskinan. Malangnya lagi penyakit konsumerisme juga menjangkit akut di masyarakat yang menyebabkan makin turunnya kualitas hidup dan harkat bangsa. Lalu bagaimana untuk mengatasi keadaan ini. sebenarnya solusinya sederhana, yaitu kembali menjalankan nilai-nilai luhur dan kearifan lokal yang telah lama ada di masyarakat dan sudah terbukti mampu mengatasi kesulitan tersebut.

Banyak nilai-nilai luhur yang apabila kita jalankan, Insya Allah dapat mengurangi beban masyarakat yang makin memberat. Untuk mengatasi kelaparan (gizi buruk) pada bayi, ASI bisa menjadi solusinya. Kampanye tentang penggunaan ASI harus betul-betul digalakkan untuk memberikan kesadaran pada masyarakat. Bahkan kalau perlu diwajibkan di seluruh rumah sakit bersalin. Sehingga minimal sampai dua tahun bayi tersebut relatif aman perkembangan dan pertumbuhannya bila mengonsumsi ASI walapun memang masih perlu makanan tambahan.

Untuk memenuhi gizi ibunya, bisa diatasi dengan hal sederhana seperti menanam sayuran-sayuran di sekitar halaman rumahnya. Kalau tidak punya halaman, bisa menggunakan barang bekas sebagai pot sayuran. Sekalian menjaga lingkungan dengan mengolah sampah menjadi pupuk kompos sebagai media tanam dan memanfaatkan barang bekas. Sementara untuk bapaknya mengalihkan pengeluaran yang kurang bermanfaat (seperti merokok) pada pembelian lauk pauk yang bisa dikonsumsi sekeluarga.

Apakah dengan program ini kemiskinan akan hilang serta merta? Tentunya tidak, namun apabila ini menjadi gerakan dan budaya seluruh masyarakat untuk hidup mandiri memenuhi kebutuhannya sendiri dan mengurangi konsumsi yang tak perlu setidaknya akan mengurangi beban masyarakat. Dan tentunya akan berhasil bila pemimpin, pejabat, dan politisi ikut memberi contoh dan menjalankan gaya hidup ini. Gaya hidup sederhana dan mandiri.

Senin, 13 Oktober 2008

Tanah Kita Tanah Surga

KATANYA tanah kita tanah surga. Tongkat kayu dan bambu bisa jadi tanaman. Namun, mengapa masih banyak rakyat makan nasi aking. Makin hari, jumlahnya makin banyak saja. Apakah surga itu hilang? Atau dikorup? Semestinya surga itu masih ada. Hanya saja, surga Indonesia itu dibiarkan letih. Boleh dibilang: masih tertatih-tatih memenuhi standar kebutuhan hidup penduduk Indonesia yang besar jumlahnya.

Sementara dalam forum Roundtable Discussion yang diadakan FAO dengan tema Demand on Agricultural and Rising Prices Commodity Indonesia dinilai telah berhasil mengatasi isu rawan pangan yang kini telah menjadi isu dunia. Dan memang berdasarkan data, pada tahun 2006, nilai total produksi padi di Indonesia mencapai lebih 54 juta ton, dan pada 2007 meningkat sampai 57 juta ton. Sementara bila diproyeksikan dengan rata-rata jumlah konsumsi beras penduduk Indonesia yang sebesar 154 kg/orang/tahun berdasarkan data IRRI 1999, jumlah ini bisa dikatakan mampu mencukupi kebutuhan pangan rakyat Indonesia.

Hanya saja fakta ini tidak serta merta mengurangi kasus kurang pangan (gizi buruk) atau terkendalinya harga beras di pasaran. Masyarakat masih tetap mengalami kesulitan untuk memenuhi kebutuhan dasarnya berupa kebutuhan pangan. Di tanah yang subur ini, sebenarnya alam mampu memenuhi kebutuhan penduduknya bila tanah ini dikelola dengan bijak, insya allah ketahanan pangan bisa terjaga.

Untuk mewujudkan dan menjaga ketahanan pangan ini, solusinya antara lain dengan pembuat kebijakan di negeri ini membuat peraturan tentang lahan pertanian. Sekarang ini banyak lahan pertanian yang beralih fungsi. Dengan berbagai alasan, terutama alasan ekonomi, para pemilik lahan lebih senang menjualnya, daripada mengelolanya untuk ditanami padi. Alasannya sederhana saja, dengan menjual lahan, langsung jadi uang walaupun mungkin akan habis dalam hitungan bulan mengingat murahnya harga jual tanah tersebut daripada mengolahnya menjadi lahan pertanian. Karena meski harga beras merangkak naik, petani tetap saja tidak mendapatkan keuntungan. Biaya pengolahan lahan, bibit, serta harga pupuk sudah tidak murah lagi. Katakan panen berhasil tanpa ada gangguan hama atau kekeringan, hasilnya pun terlalu pas-pasan kalau tidak mau dikatakan rugi. Alih-alih mau usaha yang ada rugi. Nah siapa mau rugi. Petani bukanlah profesi pilihan, daripada menjadi petani mereka lebih senang menjual lahannya untuk memenuhi kebutuhan.

Apabila hal ini dibiarkan, sangat mungkin Indonesia yang dulu dijuluki lumbung padi menjadi negara pengimpor utama kebutuhan pangan rakyatnya. Pemimpin, pejabat, politisi, dan ilmuwan negeri ini perlu duduk bersama secara serius membuat peraturan yang mampu melindungi lahan pertanian untuk tidak beralih fungsi sekaligus membuat kebijakan yang mampu menyejahterakan para petaninya. Masa, rakyat yang tinggal di tanah surga, kelaparan dan harus makan nasi aking?

Jumat, 10 Oktober 2008

Mengemban Amanah

INI drama besar yang mencengangkan, dan menggores hati nurani. Diperlihatkan dengan sangat jelas. Bukan pertunjukkan drama buatan budayawan atau sastrawan, tapi sebuah drama kenyataan. Rekaman percakapan perselingkuhan hukum antara pemilik masalah dan pengemban amanah penegak hukum yang tak lagi amanah.

Begitu transparannya rekaman percakapan tersebut, sampai-sampai rasanya kita sendiri menjadi tak yakin pada keberadaan dan kemampuan badan penegak hukum di negeri ini untuk menyelesaikan permasalahan hukum. Pemilik masalah begitu digdaya mengatur sebuah keputusan hukum dan mempengaruhi pembuat keputusan. Dan pengemban amanah begitu murahnya menjual amanah tersebut. Ingat, kejadian semacam ini tidak berlangsung sekali, tetapi berulang kali. Tak hanya di pusat, juga terjadi pula terjadi di daerah-daerah.

Di negeri ini amanah bagi pengembannya serasa milik sendiri. Tidak ada pertanggungjawaban dan dengan mudahnya disalahgunakan untuk kepentingan sendiri atau golongan. Mudah kita menemukan penegak hukum yang justru melanggar hukum. Gampang juga kita mendengar janji-janji yang diucapkan para pengelola negara maupun politisi yang kemudian tidak tertunaikan. Atau begitu mudahnya pula pembuat kebijakan itu mengubah dan mensiasati keputusan dan janji yang telah disepakatinya hanya untuk menangguk keuntungan golongannya yang dampakya menimbulkan konflik berkepanjangan antar elemen masyarakat.

Wajar saja, bila sekarang ini rakyat merasa apriaori dan putus asa terhadap para pengelola negara dan pemimpin daerah yang tidak amanah. Para penegak hukum pengemban amanah justru begitu mudahnya mempermainkan hukum. Juga para politisi yang tak lagi benar-benar memperjuangkan amanah. Kok begitu teganya ya, mempermainkan amanah yang diberikan rakyat serta menjualnya dengan harga murah. Lalu rakyat yang sebenarnya pemilik dan pemberi amanah ini nasibnya mau dikemanakan kalau yang diberi amanah tidak mengemban amanah? Bisa jadi karena mereka tahu bahwa rakyat kita ini baik-baik dan pemaaf sehingga apabila amanahnya disalahgunakanpun tidak akan marah. Alangkah mengecewakannya bila sikap dan perilaku mereka seperti ini, dengan tega dan sengaja mengkhinati amanah rakyat, sementara rakyat begitu percaya dan ikhlas memberikan amanahnya.

Sebagai apapun kita, sudah menjadi kewajiban kita untuk menunaikan amanah yang dibebankan pada kita. Sebagai rakyat bekerja dan berusaha semaksimal mungkin. Sebagai penguasa, kepala daerah, dan juga politisi memenuhi janji dan memperjuangkan amanah yang dipercayakan. Apapun dan bagimanapun kondisi bangsa ini, apabila seluruh elemen bangsa menjaga dan menunaikan amanah, Insya Allah bangsa ini akan terlepas dari kesulitan, dan sang rakyat pemilik amanah akan merasakannya, berupa kesejahteraan dan kemakmuran.

Kamis, 09 Oktober 2008

Surat Dari Rakyat

Pagi ini saya mendapatkan surat cinta
Surat cinta dari rakyat jelata
Untuk itu saya akan membacakannya untuk Anda semua

Pak wakil rakyat yang terhormat
Bukankah saya dan orang-orang seperti saya yang menjadikan anda menjabat
Menjadikan anda duduk di kursi terhormat
Menjadikan anda perlente yang jidatnya makin mengkilat

Dulu bapak pidato berapi-api
Kami pun ikhlas mendengarkannya dengan hati
Karena kami berharap bapak akan benar-benar memperjuangkan aspirasi kami
Membela hak kami sebagai rakyat republik ini

Kami juga ikhlas ketika anda minta kami hadir disetiap kampanye bapak
Bahkan kami juga rela meninggalkan dagangan kami di lapak
Yang menjadi sumber penghidupan kami satu-satunya
Kami juga mengajak anak bini untuk berpartisipasi walau sebenarnya tak ingin

Gara-gara mendukung bapak, kami sempat bersitegang dengan mertua karena beda partai
Tapi kami tetap mendukung bapak sebagai harapan kami dan pembela kami

Sekarang bapak sudah menjabat
Sekarang bapak sudah terhormat
Tapi sekarang bapak tidak pernah datang lagi ke tempat kami

Tempat kami memang kumuh
Tempat kami memang kotor
Tapi dulu bapak sebelum menjadi wakil kami
Hampir tiap hari meyambangi kami
Sekadar membawa sedikit roti dan janji-janji

Dulu bapak kelihatan sungguh-sungguh ingin membela kami
Dulu bapak begitu bersemangat memaparkan program-program bapak yang kami sebenarnya juga gak ngerti

Senyum bapak begitu tulus
Janji bapak manis bak gula
Membuat kami percaya,
Sampai kami menolak ajakan politisi lain yang sebenarnya memberikan amplop yang isinya jauh lebih besar dari penghasilan kami sehari

Dulu bapak mengajak kami menggulingkan penguasa
Bapak begitu berapi-api meneriakkan perubahan
Kami pun terbakar membara
Dengan sekuat tenaga dan harta yang tak seberapa kami ikut serta

Dan akhirnya penguasa pun jatuh juga
Tapi kini, perubahan tak kunjung datang
Yang ada makin sengsara

Bapak wakil rakyat yang terhormat

Kemana bapak selama ini
Apa bapak sudah lupa bahwa punya rakyat yang masih menderita dan melarat

Apakah bapak sudah lupa jalan ke rumah kami
Karena bapak tidak lagi jalan kaki dan sudah berganti alphard
Apa bapak sudah lupa karena
Sering makan enak sampai gak bisa melihat ke bawah
Karena terhalang perut yang membuncit

Mungkin bapak terlalu sibuk sidang paripurna
Sehingga tak terasa
Kalau rakyatnya sengsara

Atau malah bapak sudah lupa
Karena lebih sering berkhalwat di tempat maksiat
Daripada bermunajat

Mudah-mudahan bapak tidak kehilangan logika
Karena memukul bola jauh-jauh memungutnya kembali dan memukulnya lagi

Tidak-tidak, kami tidak ingin curiga
Karena tiada guna
Kami masih percaya kok
Kalau bapak memang sibuk membela kami

Hanya saja belum berhasil
Hanya saja belum terbukti
Hanya saja masih janji-janji
Hanya saja kami masih begini

Kami masih berharap pada bapak
Untuk memperjuangkan kami
Membela hak kami
Serta memikirkan nasib kami

Nasib kami sudah makin terpuruk
Keadaan makin memburuk
Makanan termewah kami hanyalah kerupuk
Bicara harga-harga kok makin mengangkasa
Rasanya hanya ada di mimpi ya

Kawan kami makin banyak yang gantung diri
Makin banyak yang jual diri
Makin kehilangan jati diri

Indonesia tanah surga?
Itu dulu, pelajaran SD anakku
Tongkat kayu menjadi tanaman itu hanya lagu
Zamrud khatulistiwa hanya gurauan sendu

Wakil rakyat yang terhormat
Keinginan kami sederhana
Hanya biasa saja

Pemimpin yang membuat kebijakan yang bajik
Politisi yang memperjuangkan amanat rakyat
Agamawan yang mengajarkan keteladanan
Cendikiawan yang menghasilkan kegunaan
Budayawan yang mencontohkan kesantunan
Usahawan yang juga dermawan
Pemuda yang asanya setinggi angkasa
Dan rakyat yang penuh harapan tak hanya berpangku tangan Â

Kami lahir dan hidup di bumi nusantara ini
Bumi yang mampu menyejahterakan penduduknya
Bumi yang mampu mengantar putra-putrinya sejajar dengan bangsa-bangsa di dunia
Bumi yang melahirkan pahlawan-pahlawan pendiri Indonesia

Namun sayang, hanya saja karena salah kelola
Yang ada rakyat makin sengsara
Kata putus asa ada dimana-mana diseluruh pelosok negeri

Keramahan berubah menjadi kecurigaan
Kemakmuran berubah menjadi kenistaan
Harapan berubah keputusasaan
Martabat berubah menjadi melarat
Pemberi berubah menjadi pengantri

Akankan kita mendiamkan keadaan ini berlarut dan tidak berbuat. Apakah bapak tega melihat senyum tulus anak-anak kami, senyum keceriaan, senyum keikhlasan

Jangan sampai semua yang hadir disini dicap oleh anak cucu kami sebagai pengkhianat bangsa, karena tak mampu memperjuangkan dan mewujudkan cita-cita sederhana kami

Cita-cita untuk menjadi bangsa yang bermartabat
Bangsa yang terhormat
Bangsa yang disegani negara-negara sejagat

Pesan terakhir kami hanya satu
Jangan jual suara kami dengan harga murah
Karena kata nabi hanya para pengkhianatlah yang menjual suara rakyat

Jangan mau Anda yang terhormat
Menjadi pengkhianat
Saatnya kita berbuat untuk anak cucu kita
Dengan perbuatan mulia semampu kita
Siapa saja, saat ini juga

Kami tunggu janji Anda!

Surabaya, 29 Mei 2008

Rabu, 08 Oktober 2008

Menyebarkan Energi Positif

“Bekerjalah dengan rajin untuk duniamu seakan engkau akan hidup selamanya dan bekerjalah dengan sungguh-sungguh untuk akheratmu seakan engkau akan mati esok.” Demikianlah, Umar bin Khattab pernah menyampaikan kata-kata bijak ini kepada para sahabatnya.

Kita dituntut untuk berprestasi di dunia dengan bekerja sebaik-baiknya, sehingga apa yang kita kerjakan sekarang tak hanya bisa kita nikmati saat ini saja, tapi juga bisa dinikmati anak cucu kita. Sejalan dengan itu, kita juga terus memperbaiki diri dengan memperbaiki perbuatan kita. Sehingga apabila, katakalah tiba-tiba Tuhan “memanggil”, kita telah siap dengan bekal perbuatan baik kita.

Dengan kondisi seperti saat ini, kita semua, bagian dari anak bangsa Indonesia selayaknya menyebarkan energi positif seperti yang dinasehatkan Umar. Masing-masing kita kosentrasi terhadap pekerjaan yang kita jalani, sekaligus memperbanyak ibadah untuk menguatkan hati.

Saat ini energi negatif begitu kuat melingkupi hidup kita. Sejak bangun tidur hingga tidur lagi, mayoritas berita yang kita baca, kita lihat, dan kita dengar adalah berita yang tidak baik tentang bangsa Indonesia maupun perilaku pejabat, politisi, maupun rakyatnya. Hal yang menyedihkan. Apabila setiap hari kita disuguhi berita semacam ini, betapa mencemaskannya perjalanan bangsa ini. Dengan cepat kita terpengaruh energi negatif tersebut. Sehingga menjadikan bangsa ini mandul produktivitas karena mengurus dan memikirkan hal-hal yang tidak produktif.

Kita terbiasa mengorek kejelekan dan kelemahan lawan, atau bahkan seorang kawan sekalipun. Senang kalau melihat orang lain susah dan susah kalau melihat orang lain senang. Sayangnya media yang ada banyak yang ikut berlomba-lomba memberitakan sesuatu yang kurang baik. Karena dianggap tidak keren kalau tidak memberitakan hal-hal yang spektakuler.

Misalnya; demokrasi yang telah dengan sukses kita jalankan di negeri ini, tiba-tiba harus ternoda dengan pemberitaan demonstrasi yang anarkis dan menakutkan. Kesuksesan demokrasi yang luar biasa kita capai tertutupi oleh sedikit tindakan anarkis, yang berkesan dan berdampak jauh lebih besar daripada kesuksesannya. Atau contoh yang lain, acara televisi yang lebih senang memberitakan perceraian artis daripada prestasinya. Makanya tak heran bila belakangan ini perceraian begitu mewabah dan biasa terjadi di masyarkat karena memang setiap hari kita disuguhi berita yang semacam ini.

Padahal bangsa ini masih memiliki anak-anak bangsa yang mempunyai prestasi dan berkerja dengan dedikasi tinggi. Akan lebih baik apabila media mampu menyajikan berita-berita yang positif tentang bangsa ini. Sehingga apa yang kita dengar, kita baca, dan kita lihat adalah sesuatu yang positif, dan kitapun akan dilingkupi energi positif.

Apabila setiap pribadi mempunyai energi positif dengan rasa optimis dan bekal mental yang sehat, serta menyebarkan dan menumbuhkannya dalam setiap anggota keluarganya dan terus berkembang ke masyarakatnya, persoalan bangsa ini sedikit demi sedikit akan teratasi. Saatnya kita bekerja dengan tekun dan ikhlas seperti kata Umar.

Selasa, 07 Oktober 2008

Minta Maaf

MOHON maaf lahir dan batin. Pernahkah kita merenung. Berhenti sejenak dari rutinitas untuk memikirkan apa-apa yang telah kita dan sedang lakukan. Bisa jadi ketika merenung, tenang, dan tidak terburu-buru dengan kehidupan, kita akan mendapatkan jawaban-jawaban dari pertanyaan yang selama ini mengganggu pikiran. Dijamin jawaban yang akan kita dapat adalah jawaban yang sebenarnya. Jawaban dari dalam hati yang memang pas buat kita.

Pada saat yang tenang saat merenung inilah kita juga akan menyadari betapa banyak kesalahan yang sudah kita lakukan. Baik kesalahan kepada Tuhan, kesalahan pada sesama, pada orangtua, pada anak atau bahkan pada binatang dan alam sekalipun. Nah kesalahan-kesalahan yang telah diperbuat ini lama-kelamaan akan menumpuk dan menutupi kesadaran kita bahwa ternyata sebenarnya kita pernah punya salah, saking banyaknya sampai lupa kesalahan yang diperbuat.

Budaya mengakui kesalahan dan minta maaf hampir-hampir hilang dari bangsa Indonesia. Padahal mengakui salah adalah bukan perbuatan nista. Bahkan akan dianggap sebagai ksatria karena mengakui salah dan berani bertanggungjawab atas tindakan salah yang dilakukan. Namun kenyataanya tidak demikian. Lihat dan baca saja pemberitaan di media massa. Sudah jelas-jelas salah, oknum yang bersalah, masih saja bisa berkelit dengan seribu satu cara. Sampai-sampai masyarakat dibuat bingung dan akhirnya berkesimpulan bahwa oknum tersebut tidak salah. Dan yang jelas sampai saat ini tidak ada (atau belum ada) pejabat atau politisi yang berani mengakui kesalahan di depan publik dan mengundurkan diri karena kesalahan tersebut.

Budaya yang sangat bertentangan dengan budaya bangsa lain seperti bangsa Jepang dan Korea yang menjunjung tinggi sifat kejujuran. Bahkan ada yang lebih memilih jalan mengakhiri hidup daripada menanggung malu karena salah. Tentunya bukan jalan ini yang kita tiru, tetapi sikap berani mengakui salah dan bertanggungjawab serta siap mundur bila melakukan kesalahan.

Keika Ramadhan tiba, itu saat yang tepat untuk mengucapkan kata maaf pada semua. Penguasa minta maaf pada rakyat. Rakyatpun juga demikian. Politisi minta maaf pada konstituen demikian juga sebaliknya. Para pemimpin termasuk pemimpin agama maupun pemimpin masyarakat sebaiknya juga meminta maaf, jangan menunggu permintaan maaf dari rakyat atau ummat. Karena yang memimpin lebih banyak bicara daripada yang dipimpin sehingga lebih banyak pula kesalahan yang diperbuat.

Alangkah indahnya bila memasuki bulan Ramadhan kali ini diantara kita saling menebar kata maaf, Siapa tahu selama berinteraksi dengan sesama pernah atau bahkan banyak melakukan kesalahan. Untuk itu saya sebagai manusia yang juga Ketua Umum PAN dalam kesempatan ini meminta maaf pada saudara-saudara sekalian yang pernah berinteraksi secara langsung maupun tidak langsung.

Berlomba Berbuat Kebaikan

MAU berbuat apa saja, itu memang menjadi hak kita masing-masing. Berbuat baik atau sebaliknya. Hanya saja, sama-sama berbuatnya, berbuat baik akan lebih menentramkan hati. Dan, setiap kita akan dituntut bertangungjawab atas perbuatan yang telah kita lakukan.

Di tengah kondisi seperti saat ini dan keadaan pemerintah yang menjalankan negara masih juga kurang beruntung (kesulitan) sehingga banyak tanggung jawab yang sebenarnya menjadi beban negara, menjadi beban rakyat, peran serta masyarakat sangatlah diperlukan. Menjadi bagian dari anggota masyarakat yang peduli tidak hanya menjelang masa-masa tertentu seperti kampanye atau saat pemilu tetapi harus sudah menjadi bagian dari rutinitas kita yang mendarah daging. Artinya, harus ada perasaan yang hilang dari diri kita, bila tidak ikut berbagi. Namun lebih baik apabila keinginan berbuat baik dan berbagi itu bukan menjadi ajang adu kesombongan atau pamer.

Untuk itu, pada hari Jumat 18 Juli 2008, kami di Surabaya di rumah Yatim Piatu Salafiyah Kedung Baruk, dan bersamaan di 83 tempat lainnya di Jawa Timur bersama-sama kader PAN yang lain kami mencanangkan gerakan Solidaritas Nasional menyantuni anak yatim. Kenapa anak yatim, karena agama telah memerintahkan kita untuk merawat dan mengasihi anak yatim. Bahkan kita dianggap mendustakan agama bila mensia-siakan anak yatim. Demikian juga sebenarnya negara juga telah menyatakan bahwa fakir miskin dan anak terlantar menjadi tanggung jawab negara.

Tujuan dari gerakan ini adalah Insya Allah bukan untuk pamer. Melainkan ingin menularkan virus kebaikan kepada masyarakat yang berpunya untuk lebih meningkatkan solidaritas kepada masyarakat yang kurang beruntung, seperti anak-anak yang tinggal di rumah yatim piatu.

Apabila kegiatan yang telah kami lakukan bersama PAN ini dicontoh dan bahkan diselenggarakan lebih besar lagi oleh partai lain, organisasi masyarakat, atau pribadi-pribadi dengan niatan yang tulus, saya justru ikut merasa bahagia dan senang, karena ikut memberikan inspirasi kebaikan kepada yang lain. Masing-masing partai akan berbagi memberikan manfaat yang sebesar-besarnya buat masyarakat. Dan akhirnya yang mendapatkan untung dan manfaat adalah rakyat. Dengan demikian, hanya partai yang memberikan manfaat kepada masyarakatlah yang akan dipilih oleh masyarakat kelak.

Alangkah indahnya bila para pemimpin, pejabat, tokoh, politisi dan siapa saja berlomba-lomba membuat kebaikan untuk rakyat. Mari berfastabiqul khoirot untuk rakyat, karena Hidup adalah Perbuatan.

Mengembalikan Senyum Bangsa

BANGSA Indonesia kaya dengan beragam sumber daya alamnya. Ada sebuah kekayaan lain yang kita miliki, dan tak ternilai harganya, yaitu senyuman. Tak semua bangsa punya kekayaan ini. Singapura saja perlu mengadakan terapi khusus untuk rakyatnya agar mau tersenyum dan kelihatan ramah guna menyambut wisatawan yang datang di negeri singa itu.

Rakyat Indonesia tak perlu latihan kalau hanya tersenyum. Tak perlu juga negara mewajibkan rakyatnya pura-pura tersenyum agar kelihatan ramah. Bangsa yang besar ini punya rakyat yang tak hanya ramah tapi juga pandai tersenyum. Senyumnyapun bukan dibuat-buat, tapi senyum yang tulus dari dalam hati.

Dulu, kemanapun anda pergi ke pelosok negeri ini mulai dari ujung Sumatera hingga pangkal Papua yang anda temukan adalah keramahan rakyatnya dengan senyum mengembang di setiap bibir rakyatnya. Kini, rasanya senyum sudah menjadi barang mahal di negeri ini. Banyak yang hilang dari bangsa ini, rakyat sudah kehilangan senyumnya, kehilangan keramah-tamahannya, kehilangan rasa optimis, berubah menjadi pesimis, skeptis, apatis, dan penuh rasa curiga.

Kenapa rakyat banyak berubah? Rakyat sudah terlampau sering dikecewakan pembuatan kebijakan di negeri ini. Banyak kebijakan yang dibuat tidak pro rakyat. Harapannya pada wakil rakyat yang duduk di kursi legislatif pun tak banyak membantu. Sebagian besar tak benar-benar berjuang untuk kepentingan yang diwakilinya. Rakyat sering menjadi korban dan dibiarkan sendirian serasa tak punya pemimpin yang mampu melindunginya dan mendengarkan keluhannya .Wajar kalau senyuman itu hilang dan berubah menjadi senyum kecut dan getir.

Rakyat pun diajari oleh pembuatan kebijakan untuk merendahkan martabatnya dengan mengantri bantuan yang nilainya tak seberapa. Rakyat tak malu-malu lagi mengaku tak mampu agar mendapatkan bantuan dan menjadi peminta-minta yang sebenarnya bukan sifat bangsa ini yang pekerja keras.

Seratus tahun sudah bangsa Indonesia memperingati kebangkitan nasional. Dan lebih dari seratus masalah melilit bangsa ini. Namun demikian jangan pernah menyerah terhadap keadaan. Sudah saatnya kita bersama-sama berbuat untuk tidak membiarkan martabat bangsa ini jatuh sampai titik nadir. Alangkah lebih baik bila para pemimpin, politisi, cendikiawan, dan agamawan berlomba-lomba menebar kebaikan dengan melakukan hal-hal yang positif dan menularkan semangat kebangsaan dan sikap optimis ke semua orang dalam setiap kesempatan. Jangan sampai kekayaan terbesar yang dimiliki bangsa ini hilang, yaitu senyum tulus dari bibir-bibir rakyat Indonesia.

Yang Muda Yang Berbuat

MASALAH bangsa terus mendera seolah tak habis-habis. Namun kita tak boleh putus asa. Kita harus tetap berusaha dan berkarya agar bangsa ini lepas dari kesulitan. Salah satu solusinya: mendorong anak muda untuk berwirausaha. Merekalah yang akan menjadi generasi mandiri dan berkemampuan menciptakan lapangan pekerjaan.

Sebenarnya bangsa ini banyak mempunyai pemuda yang bertalenta tinggi. Mereka masih muda, pintar, produktif dan siap bersaing tak hanya di dalam negeri, melainkan juga di luar negeri. Bangsa yang memiliki sumber daya potensial ini tak seharusnya terpuruk. Bersama generasi muda inilah bangsa akan berubah ke arah yang lebih baik.

Majalah Business Week tahun ini membuat daftar 25 Pengusaha Belia Asia Terbaik. Alhamdulillah, ada dua anak muda Indonesia yang masuk dalam daftar pengusaha belia Asia. Kedua anak itu adalah Raden Ari Sudrajat dan Herryanto Siatono. Keduanya masih berusia 30 tahun, namun prestasinya layak diperhitungkan. Kedua anak muda ini besar bukan karena fasilitas tapi karena kreativitas dan adanya jiwa wirausaha yang tinggi.

Raden Ari Sudrajat adalah seorang CEO Braincode Solution, sebuah perusahaan content provider yang ia dirikan bersama dua orang temannya. Bermodal hutangan 41 juta pada tahun 2005 ia memulai bisnis ini di sebuah rumah kontrakan di Pondok Gede. Kini Braincode memiliki 80.000 pelanggan aktif dari total 200.000 pelanggan yang menggunakan jasanya. Prestasi Braincode tak sedikit, salah satunya mobile comic-nya meraih penghargaan sebagai konten terbaik dari PT Telkomsel. Berikutnya game teka-teki silang yang ia ciptakan juga mendapatkan anugerah terbaik. Kini, Braincode mampu menyewa kantor sendiri di gedung di Kawasan Kuningan dengan mempekerjakan 22 orang karyawan. Tahun ini juga, Braincode akan membuka kantor cabang di Qatar dan Singapura. Proyeksinya tahun 2009 Braincode sudah bisa go public untuk mengembangkan usahanya.

Sedangkan prestasi Herryanto Siatono juga tak main-main. Anak muda kelahiran Tanjung Balai, Medan ini mendirikan Pluit Solution di Singapura. Pluit Solutions membuat situs www.bookjetty.com yang melayani pecinta buku di seluruh dunia dan memungkinkan orang untuk mencari buku serta membuat katalog pribadi. Situs yang ia buat ini terhubung dengan 300 perpustakaan di sepuluh negara yaitu; Amerika Serikat, Kanada, Australia, Selandia Baru, Singapura, Hong Kong, Taiwan, Irlandia, dan Afrika Selatan. Kejagoan anak muda ini juga terbukti juara kedua di ajang perlombaan Xtrema Apps yang diadakan Information Technology Standards Committee, Singapura. Kini Pluit Solutions tak hanya mengembangkan bookjetty saja, juga melayani pembuatan web untuk perusaaan menengah di Amerika dan Singapura.

Melihat potensi anak muda yang sedemikian besar, seluruh komponen bangsa ini mulai pemimpin, pejabat, politisi, dan pihak swasta bersatu padu untuk mendorong dan memfasilitasi anak-anak muda untuk berkarya, berwirausaha, agar lapangan tenaga kerja tercipta dan martabat bangsa terangkat. Ayo, berusaha dan berkarya!