PERINGKAT yang tertuang dalam annual review yang kedua Travel & Tourism Competitive Index menempatkan Indonesia di urutan ke-80 hanya sedikit diatas Bostwana urutan ke-87, masih kalah dengan India, Srilanka, apalagi dengan negara tetangga seperti; Thailand urutan ke-42, Malaysia ke-32 dan Singapura urutan ke-16.
Dasar penilaian tersebut mengacu pada tiga hal pokok, yaitu; peraturan dan kebijakan pemerintah, infrastruktur, serta manusia dan sumber daya alamnya. Itulah dasar yang digunakan Lembaga riset yang berkedudukan di Jenewa dalam mengeluarkan daftar peringkat negara berdasarkan indeks pariwisata di sebuah negara.
Kenapa Indonesia bisa menempati peringkat yang lebih rendah dibanding negara-negara jiran? Apakah negara-negara yang mempunyai peringkat lebih tinggi dibanding Indonesia mempunyai alam yang lebih indah? Apakah mereka mempunyai budaya yang beragam? Tidak, Indonesia mempunyai alam yang indah, mempesona dengan kekayaan budaya yang beragam serta unik. Seluruh pelosok negeri ini seperti; indahnya taman laut Raja Ampat yang menjadi surganya para penyelam, eloknya pantai di pesisir serta budayanya yang khas di pulau Bali, keramahan wisata budaya Jogjakarta, atau uniknya seni debus di Banten adalah sedikit dari banyaknya obyek wisata dan obyek budaya yang layak jual ke wisatawan mancanegara.
Untuk membantu mengatasi krisis multidimensi di Indonesia, sudah selayaknya pemimpin bangsa, para politisi dan pejabat baik di pusat maupun di daerah mulai serius memikirkan bagaimana memajukan dunia pariwisata Indonesia. Solusinya sederhana saja, mengacu pada tiga hal pokok diatas. Pemerintah dan kalangan DPR bisa menghasilkan kebijakan dan peraturan yang mendorong tumbuhnya dunia pariwisata. Misalnya adanya pengurangan pajak untuk industri yang mampu mendatangkan wisatawan dari luar negari.
Bank-bank pemerintah mulai menyalurkan kredit untuk para pelaku pariwisata dengan memberikan pinjaman lunak dan bunga yang lebih rendah untuk membangun atau mengembangkan obyek wisata. Pemerintah memprioritaskan pembangunan infrastruktur dasar, seperti; jalan raya, listrik, komunikasi, dan air bersih yang berkualitas menuju lokasi wisata.
Disaat yang sama, pemerintah juga memikirkan orang-orang yang terlibat dalam industri ini, dengan memberikan keringanan pembayaran pajak pendapatan untuk para investor atau insentif untuk para perajin atau pelaku budaya di tingkat masyarakat seperti kusir delman dan penabuh gamelan di Jogja, pemain debus, penari dan pengukir patung di Bali. Insentif ini tidak harus uang, bisa berupa kartu berobat gratis di puskesmas setempat, atau membebaskan biaya sekolah untuk anak-anaknya sampai SMU. Yang lebih penting lagi, adalah kita seluruh elemen masyarakat menjaga kealamian alam jamrud khatulistiwa ini. Penguasa harus berani menindak tegas siapa saja yang merusak alam Indonesia.
Ini menjadi perhatian yang serius karena industri pariwisata memiliki efek domino yang besar yang dampaknya bisa dinikmati seluruh lapisan masyarakat hingga termasuk para perajin di pedesaan. Apalagi dunia pariwisata menyumbang devisa bagi negeri ini nomor tiga setelah industri minyak serta gas bumi dan industri tekstil. Sudah saatnya prioritas pembangunan pariwisata ini dikembangkan untuk membantu meringankan beban masyarakat yang makin hari makin berat.


0 komentar:
Posting Komentar