Rabu, 24 September 2008

Merdeka, mandiri, dan moderen

MERDEKA adalah membebaskan diri baik secara fisik maupun hati dari adanya belenggu. Tuhan telah menjadikan kita sebagai pribadi-pribadi yang merdeka. Bebas bertindak sesuai dengan keinginan dengan tetap bertanggung jawab atas tindakan yang dilakukan. Merdeka itu bebas menentukan pilihannya sendiri tanpa adanya intervensi atau pengaruh orang lain.

Empat belas abad lalu, Ali bin Abi Thalib pernah berpetuah kepada kita; “Janganlah engkau menjadi hamba orang lain, karena Tuhan telah menjadikanmu sebagai orang yang bebas (merdeka)”.

Merdeka yang hakiki adalah membebaskan perasaan dan hati dari sifat-sifat negatif seperti; rasa takut, ragu-ragu, iri, maupun dengki. Satu-satunya yang berhak ‘menjajah’ dan ditakuti adalah Tuhan semesta alam. Manusia Indonesia yang merdeka adalah manusia yang berani bertindak dan bertanggung jawab serta membebaskan sifat-sifat negatif yang ada pada hati.

Mandiri itu salah satu sifat yang juga hilang dari bangsa ini. Bangsa ini banyak bergantung. Padahal rakyat Indonesia terkenal mempunyai sifat mandiri. Yaitu sifat dan semangat memenuhi kebutuhannya sendiri tanpa harus bergantung pada orang ataupun bangsa lain. Namun bangsa yang berlimpah sumber dayanya ini, baik penguasa, generasi tua, maupun generasi mudanya lebih senang menjadi pribadi yang bergantung, bukan pribadi mandiri. Padahal untuk menjadi sebuah bangsa yang sehat, apabila lebih dari dua persen jumlah penduduknya menjadi wirausaha yang mandiri. Sedangkan di Indonesia jumlahnya masih kurang dari angka tersebut. Untuk itu, generasi mudanya perlu didorong untuk menjadi generasi mandiri yang menciptakan lapangan kerja dan bukan generasi muda yang hanya berharap mendapatkan pekerjaan.

Moderen bukan berarti meninggalkan sama sekali hal-hal tradisional. Moderen disini mempunyai makna merespon dengan cepat hal-hal positif. Baik itu nilai-nilai luhur (tradisi) yang telah ada dan sudah kita miliki maupun nilai-nilai yang bersifat perbaikan seperti: disiplin, tepat waktu, responsif, serta bertanggung jawab. Moderen bermakna juga pola berfikir berkembang. Tidak terpaku pada masa lalu dan terbelenggu menyesali kegagalan yang dialami. Namun berpikir dan bertindak cepat yang positif dan tidak alergi dengan hal-hal baru. Menyikapi kegagalan sebagai tantangan untuk diubah menjadi peluang. Tidak puas dengan hasil yang telah dicapai, tetapi terus berusaha semaksimal mungkin untuk menggapai hasil yang lebih baik tanpa meninggalkan nilai moral dan dengan cara yang terpuji. Sederhananya, manusia moderen adalah bila hari ini lebih baik dari kemarin dan besok lebih baik dari hari ini.

Marilah, saatnya menjadi manusia Indonesia yang memiliki jiwa merdeka, mandiri dan moderen untuk menuju Indonesia Baru, Indonesia yang adil berkemakmuran dan makmur berkeadilan. Dan Insya Allah, Partai Amanat Nasional mampu mewujudkannya dengan Membangun Indonesia Baru yang merdeka, mandiri, dan moderen.

0 komentar: