Jumat, 26 September 2008

Berbuat Ikhlas

IKHLAS. Sebuah kata yang mudah diucapkan namun sulit dilaksanakan. Lihat saja, kalau ada kawan kita memberikan sumbangan namun yang disumbang tidak “ngerti” biasanya berkata: “Saya itu ikhlas lho nyumbang, tapi kenapa kok gak ngerti banget kalau disumbang.” Komentar semacam ini atau yang lebih pedas bisa saja muncul.

Padahal dia bilang ikhlas tapi masih saja mengungkit-ungkit pemberian. Kalau memang benar-benar ikhlas, semestinya tidak mengharapkan pamrih apapun. Dan tidak akan menyebut kalimat “saya ikhlas”, karena yang benar-benar ikhlas, biasanya diam.

Ikhlas menurut seorang filsuf Arab yang bernama Sahl, adalah tenangnya manusia dan gerak-geraknya karena Allah SWT. Secara guyonan, ada seorang bijak yang mengatakan ikhlas itu ibarat kita (mohon maaf) buang hajat. Setelah menunaikan ‘hajat’ kita tidak pernah mengingat-ingatnya apa yang telah kita lakukan. Apalagi mengharapnya kembali. Setelah selesai, ya sudah, kita lupakan bahkan untuk selama-lamanya. Itulah hakikat ikhlas.

Sahl mengajarkan kepada kita untuk berbuat ikhlas. Yaitu mendedikasikan seluruh amal perbuatan kita hanya untuk Tuhan. Tidak untuk dilihat manusia apalagi mengharap imbalan balik dari manusia. Sering kita lebih mengedepankan hitung-hitungan dengan manusia, daripada hitung-hitungan dengan Tuhan. Padahal sudah jelas apabila kita berbisnis dengan Tuhan pasti untungnya, tidak demikian dengan manusia.

Namun situasi yang serba sulit ini menjadikan rakyat kita ‘pandai berhitung’. Segala hal ada hitung-hitungannya. Rasanya perbuatan tolong menolong, atau gotong-royong, semakin hari semakin tergerus oleh nilai-nilai zaman. Yang ada budaya ikhlas juga semakin hari-semakin hilang. Ini akibat seringya menggunakan hitung-hitungan dalam semua tindakan kita. Seolah-olah karena hitung-hitungan itulah kita untung. Sering tidak melibatkan kavling Tuhan sebagai pembuat dan pemberi hitungan yang terbaik.

Apabila ikhlas menjadi sendi dan perilaku bangsa, Insya Allah, bangsa ini akan terlepas dari segala kesulitan. Presiden pun ikhlas apabila diberi masukan (kritikan) dari rakyat untuk kemajuan. Pejabat dan anggota dewan tidak akan bingung mencari “tambahan” dan ikhlas bekerja untuk rakyat. Demikian juga para caleg, tidak akan sibuk berebut nomor urut, tapi benar-benar ikhlas bekerja dan berjuang untuk rakyat. Indah rasanya bila para pejabat ikhlas melayani rakyat, dan rakyat pun dengan ikhlas menghormati dan menghargai para pejabat.

Dan Insya Allah hanya yang bekerja dengan ikhlaslah nantinya yang akan menuai hasil. Mari berhitung dengan Tuhan menjadikan ikhlas sebagai spirit segala perbuatan kita.

Rabu, 24 September 2008

Merdeka, mandiri, dan moderen

MERDEKA adalah membebaskan diri baik secara fisik maupun hati dari adanya belenggu. Tuhan telah menjadikan kita sebagai pribadi-pribadi yang merdeka. Bebas bertindak sesuai dengan keinginan dengan tetap bertanggung jawab atas tindakan yang dilakukan. Merdeka itu bebas menentukan pilihannya sendiri tanpa adanya intervensi atau pengaruh orang lain.

Empat belas abad lalu, Ali bin Abi Thalib pernah berpetuah kepada kita; “Janganlah engkau menjadi hamba orang lain, karena Tuhan telah menjadikanmu sebagai orang yang bebas (merdeka)”.

Merdeka yang hakiki adalah membebaskan perasaan dan hati dari sifat-sifat negatif seperti; rasa takut, ragu-ragu, iri, maupun dengki. Satu-satunya yang berhak ‘menjajah’ dan ditakuti adalah Tuhan semesta alam. Manusia Indonesia yang merdeka adalah manusia yang berani bertindak dan bertanggung jawab serta membebaskan sifat-sifat negatif yang ada pada hati.

Mandiri itu salah satu sifat yang juga hilang dari bangsa ini. Bangsa ini banyak bergantung. Padahal rakyat Indonesia terkenal mempunyai sifat mandiri. Yaitu sifat dan semangat memenuhi kebutuhannya sendiri tanpa harus bergantung pada orang ataupun bangsa lain. Namun bangsa yang berlimpah sumber dayanya ini, baik penguasa, generasi tua, maupun generasi mudanya lebih senang menjadi pribadi yang bergantung, bukan pribadi mandiri. Padahal untuk menjadi sebuah bangsa yang sehat, apabila lebih dari dua persen jumlah penduduknya menjadi wirausaha yang mandiri. Sedangkan di Indonesia jumlahnya masih kurang dari angka tersebut. Untuk itu, generasi mudanya perlu didorong untuk menjadi generasi mandiri yang menciptakan lapangan kerja dan bukan generasi muda yang hanya berharap mendapatkan pekerjaan.

Moderen bukan berarti meninggalkan sama sekali hal-hal tradisional. Moderen disini mempunyai makna merespon dengan cepat hal-hal positif. Baik itu nilai-nilai luhur (tradisi) yang telah ada dan sudah kita miliki maupun nilai-nilai yang bersifat perbaikan seperti: disiplin, tepat waktu, responsif, serta bertanggung jawab. Moderen bermakna juga pola berfikir berkembang. Tidak terpaku pada masa lalu dan terbelenggu menyesali kegagalan yang dialami. Namun berpikir dan bertindak cepat yang positif dan tidak alergi dengan hal-hal baru. Menyikapi kegagalan sebagai tantangan untuk diubah menjadi peluang. Tidak puas dengan hasil yang telah dicapai, tetapi terus berusaha semaksimal mungkin untuk menggapai hasil yang lebih baik tanpa meninggalkan nilai moral dan dengan cara yang terpuji. Sederhananya, manusia moderen adalah bila hari ini lebih baik dari kemarin dan besok lebih baik dari hari ini.

Marilah, saatnya menjadi manusia Indonesia yang memiliki jiwa merdeka, mandiri dan moderen untuk menuju Indonesia Baru, Indonesia yang adil berkemakmuran dan makmur berkeadilan. Dan Insya Allah, Partai Amanat Nasional mampu mewujudkannya dengan Membangun Indonesia Baru yang merdeka, mandiri, dan moderen.

Berlomba Berbuat Kebaikan

MAU berbuat apa saja, itu memang menjadi hak kita masing-masing. Berbuat baik atau sebaliknya. Hanya saja, sama-sama berbuatnya, berbuat baik akan lebih menentramkan hati. Dan, setiap kita akan dituntut bertangungjawab atas perbuatan yang telah kita lakukan.

Di tengah kondisi seperti saat ini dan keadaan pemerintah yang menjalankan negara masih juga kurang beruntung (kesulitan) sehingga banyak tanggung jawab yang sebenarnya menjadi beban negara, menjadi beban rakyat, peran serta masyarakat sangatlah diperlukan. Menjadi bagian dari anggota masyarakat yang peduli tidak hanya menjelang masa-masa tertentu seperti kampanye atau saat pemilu tetapi harus sudah menjadi bagian dari rutinitas kita yang mendarah daging. Artinya, harus ada perasaan yang hilang dari diri kita, bila tidak ikut berbagi. Namun lebih baik apabila keinginan berbuat baik dan berbagi itu bukan menjadi ajang adu kesombongan atau pamer.

Untuk itu, pada hari Jumat 18 Juli 2008, kami di Surabaya di rumah Yatim Piatu Salafiyah Kedung Baruk, dan bersamaan di 83 tempat lainnya di Jawa Timur bersama-sama kader PAN yang lain kami mencanangkan gerakan Solidaritas Nasional menyantuni anak yatim. Kenapa anak yatim, karena agama telah memerintahkan kita untuk merawat dan mengasihi anak yatim. Bahkan kita dianggap mendustakan agama bila mensia-siakan anak yatim. Demikian juga sebenarnya negara juga telah menyatakan bahwa fakir miskin dan anak terlantar menjadi tanggung jawab negara.

Tujuan dari gerakan ini adalah Insya Allah bukan untuk pamer. Melainkan ingin menularkan virus kebaikan kepada masyarakat yang berpunya untuk lebih meningkatkan solidaritas kepada masyarakat yang kurang beruntung, seperti anak-anak yang tinggal di rumah yatim piatu.

Apabila kegiatan yang telah kami lakukan bersama PAN ini dicontoh dan bahkan diselenggarakan lebih besar lagi oleh partai lain, organisasi masyarakat, atau pribadi-pribadi dengan niatan yang tulus, saya justru ikut merasa bahagia dan senang, karena ikut memberikan inspirasi kebaikan kepada yang lain. Masing-masing partai akan berbagi memberikan manfaat yang sebesar-besarnya buat masyarakat. Dan akhirnya yang mendapatkan untung dan manfaat adalah rakyat. Dengan demikian, hanya partai yang memberikan manfaat kepada masyarakatlah yang akan dipilih oleh masyarakat kelak.

Alangkah indahnya bila para pemimpin, pejabat, tokoh, politisi dan siapa saja berlomba-lomba membuat kebaikan untuk rakyat. Mari berfastabiqul khoirot untuk rakyat, karena Hidup adalah Perbuatan.

Selasa, 23 September 2008

Menyebarkan Energi Positif

“Bekerjalah dengan rajin untuk duniamu seakan engkau akan hidup selamanya dan bekerjalah dengan sungguh-sungguh untuk akheratmu seakan engkau akan mati esok.” Demikianlah, Umar bin Khattab pernah menyampaikan kata-kata bijak ini kepada para sahabatnya.

Kita dituntut untuk berprestasi di dunia dengan bekerja sebaik-baiknya, sehingga apa yang kita kerjakan sekarang tak hanya bisa kita nikmati saat ini saja, tapi juga bisa dinikmati anak cucu kita. Sejalan dengan itu, kita juga terus memperbaiki diri dengan memperbaiki perbuatan kita. Sehingga apabila, katakalah tiba-tiba Tuhan “memanggil”, kita telah siap dengan bekal perbuatan baik kita.

Dengan kondisi seperti saat ini, kita semua, bagian dari anak bangsa Indonesia selayaknya menyebarkan energi positif seperti yang dinasehatkan Umar. Masing-masing kita kosentrasi terhadap pekerjaan yang kita jalani, sekaligus memperbanyak ibadah untuk menguatkan hati.

Saat ini energi negatif begitu kuat melingkupi hidup kita. Sejak bangun tidur hingga tidur lagi, mayoritas berita yang kita baca, kita lihat, dan kita dengar adalah berita yang tidak baik tentang bangsa Indonesia maupun perilaku pejabat, politisi, maupun rakyatnya. Hal yang menyedihkan. Apabila setiap hari kita disuguhi berita semacam ini, betapa mencemaskannya perjalanan bangsa ini. Dengan cepat kita terpengaruh energi negatif tersebut. Sehingga menjadikan bangsa ini mandul produktivitas karena mengurus dan memikirkan hal-hal yang tidak produktif.

Kita terbiasa mengorek kejelekan dan kelemahan lawan, atau bahkan seorang kawan sekalipun. Senang kalau melihat orang lain susah dan susah kalau melihat orang lain senang. Sayangnya media yang ada banyak yang ikut berlomba-lomba memberitakan sesuatu yang kurang baik. Karena dianggap tidak keren kalau tidak memberitakan hal-hal yang spektakuler.

Misalnya; demokrasi yang telah dengan sukses kita jalankan di negeri ini, tiba-tiba harus ternoda dengan pemberitaan demonstrasi yang anarkis dan menakutkan. Kesuksesan demokrasi yang luar biasa kita capai tertutupi oleh sedikit tindakan anarkis, yang berkesan dan berdampak jauh lebih besar daripada kesuksesannya. Atau contoh yang lain, acara televisi yang lebih senang memberitakan perceraian artis daripada prestasinya. Makanya tak heran bila belakangan ini perceraian begitu mewabah dan biasa terjadi di masyarkat karena memang setiap hari kita disuguhi berita yang semacam ini.

Padahal bangsa ini masih memiliki anak-anak bangsa yang mempunyai prestasi dan berkerja dengan dedikasi tinggi. Akan lebih baik apabila media mampu menyajikan berita-berita yang positif tentang bangsa ini. Sehingga apa yang kita dengar, kita baca, dan kita lihat adalah sesuatu yang positif, dan kitapun akan dilingkupi energi positif.

Apabila setiap pribadi mempunyai energi positif dengan rasa optimis dan bekal mental yang sehat, serta menyebarkan dan menumbuhkannya dalam setiap anggota keluarganya dan terus berkembang ke masyarakatnya, persoalan bangsa ini sedikit demi sedikit akan teratasi. Saatnya kita bekerja dengan tekun dan ikhlas seperti kata Umar.

Jumat, 19 September 2008

Saatnya Pariwisata menjadi Perhatian

PERINGKAT yang tertuang dalam annual review yang kedua Travel & Tourism Competitive Index menempatkan Indonesia di urutan ke-80 hanya sedikit diatas Bostwana urutan ke-87, masih kalah dengan India, Srilanka, apalagi dengan negara tetangga seperti; Thailand urutan ke-42, Malaysia ke-32 dan Singapura urutan ke-16.

Dasar penilaian tersebut mengacu pada tiga hal pokok, yaitu; peraturan dan kebijakan pemerintah, infrastruktur, serta manusia dan sumber daya alamnya. Itulah dasar yang digunakan Lembaga riset yang berkedudukan di Jenewa dalam mengeluarkan daftar peringkat negara berdasarkan indeks pariwisata di sebuah negara.

Kenapa Indonesia bisa menempati peringkat yang lebih rendah dibanding negara-negara jiran? Apakah negara-negara yang mempunyai peringkat lebih tinggi dibanding Indonesia mempunyai alam yang lebih indah? Apakah mereka mempunyai budaya yang beragam? Tidak, Indonesia mempunyai alam yang indah, mempesona dengan kekayaan budaya yang beragam serta unik. Seluruh pelosok negeri ini seperti; indahnya taman laut Raja Ampat yang menjadi surganya para penyelam, eloknya pantai di pesisir serta budayanya yang khas di pulau Bali, keramahan wisata budaya Jogjakarta, atau uniknya seni debus di Banten adalah sedikit dari banyaknya obyek wisata dan obyek budaya yang layak jual ke wisatawan mancanegara.

Untuk membantu mengatasi krisis multidimensi di Indonesia, sudah selayaknya pemimpin bangsa, para politisi dan pejabat baik di pusat maupun di daerah mulai serius memikirkan bagaimana memajukan dunia pariwisata Indonesia. Solusinya sederhana saja, mengacu pada tiga hal pokok diatas. Pemerintah dan kalangan DPR bisa menghasilkan kebijakan dan peraturan yang mendorong tumbuhnya dunia pariwisata. Misalnya adanya pengurangan pajak untuk industri yang mampu mendatangkan wisatawan dari luar negari.

Bank-bank pemerintah mulai menyalurkan kredit untuk para pelaku pariwisata dengan memberikan pinjaman lunak dan bunga yang lebih rendah untuk membangun atau mengembangkan obyek wisata. Pemerintah memprioritaskan pembangunan infrastruktur dasar, seperti; jalan raya, listrik, komunikasi, dan air bersih yang berkualitas menuju lokasi wisata.

Disaat yang sama, pemerintah juga memikirkan orang-orang yang terlibat dalam industri ini, dengan memberikan keringanan pembayaran pajak pendapatan untuk para investor atau insentif untuk para perajin atau pelaku budaya di tingkat masyarakat seperti kusir delman dan penabuh gamelan di Jogja, pemain debus, penari dan pengukir patung di Bali. Insentif ini tidak harus uang, bisa berupa kartu berobat gratis di puskesmas setempat, atau membebaskan biaya sekolah untuk anak-anaknya sampai SMU. Yang lebih penting lagi, adalah kita seluruh elemen masyarakat menjaga kealamian alam jamrud khatulistiwa ini. Penguasa harus berani menindak tegas siapa saja yang merusak alam Indonesia.

Ini menjadi perhatian yang serius karena industri pariwisata memiliki efek domino yang besar yang dampaknya bisa dinikmati seluruh lapisan masyarakat hingga termasuk para perajin di pedesaan. Apalagi dunia pariwisata menyumbang devisa bagi negeri ini nomor tiga setelah industri minyak serta gas bumi dan industri tekstil. Sudah saatnya prioritas pembangunan pariwisata ini dikembangkan untuk membantu meringankan beban masyarakat yang makin hari makin berat.